IBC, JAKARTA – Fenomena viralnya video kegiatan pramuka di daerah Yogyakarta yang mengajarkan ‘yel-yel islam yes kafir no’ mengindikasikan bahwa fenomena radikalisme agama masih ada, dan terus berkembang di masyarakat.

Merespon fenomena tersebut, sekumpulan mahasiswa di Jakarta Pusat yang tergabung dalam Majelis Diskusi Mahasiswa mengadakan diskusi dengan tema, ‘Peran Pendidikan Dalam Mereduksi Radikalisme Dan Terorisme’ bertempat di Waris Caffe wilayah Jakarta Pusat, Jumat (24/01/2020).

Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa se-Jakarta Pusat ini dipantik oleh akademisi dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Adrinovriarini, dan pengamat politik dari Populi Center, Rafif Pamenang Irawan, serta Ade Reza Haryadi yang dikenal masyarakat sebagai Pengamat Politik UI.

Dalam penyampaiannya, Rafif Pamenang Irawan mengatakan, bahwa munculnya radikalisme bisa berasal dari beberapa hal seperti, pemahaman budaya, agama, bahkan politik, dan pemahaman itu yang membuat manusia bertindak.

“Radikalisme bisa berakar dari berbagai hal, seperti budaya, agama bahkan politik, berawal dari pemikiran yang akhirnya membuatnya untuk bergerak atau merealisasikannya,” ujar Rafif, di Jakarta, Jumat (24/1/2020).

Karena pemahaman tersebut lanjutnya, akhirnya membuat orang-orag bergabung dengan grup-grup yang berbasis radikalimse sehingga membuat seseorang cenderung inklusif dan tertutup, dan hanya menerima mereka yang sesuai dengan pemikiran dan pemahamnnya dan menolak orang-orang yang berbeda pandangan dengannya.

“Orang-orag bergabung dengan grup-grup yang berbasis radikalimse sehingga membuat seseorang cenderung inklusif dan tertutup,” imbuh dia.

Sedangkan menurut Adrinovriarini, dunia pendidikan memiliki peranan penting dalam menangkal radikalisme dan terorisme yang menyasar ke pemuda saat ini.

Upaya ini dapat dilakukan dengan memperbanyak lagi kurikulum yang mengajarkan nasionalisme dan pemahaman agama yang moderat, seperti matakuliah Pancasila, Kewarganegaraan, Agama dan masih banyak lagi.

“Pendidikan Pancasila dan agama yang moderat sangat penting untuk mahasiswa, terutama mereka yang jurusan eksakta dan berasal dari SMA. Penerapan nilai dari mata kuliah Pancasila dapat berupa penjagaan sikap ketika bersosialisasi dengan orang lain, dan toleransi. Ini adalah salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme melalui perguran tinggi,” tegas Adrinovriarini.

Sementara itu menurut pengamatan Ade Reza Haryadi, di satu sisi ada kondisi nyata yang cukup mengkhawatirkan tentang radikalisme namun disisi lain dunia pendidikan harus tetap menjadi wahana agar berbagai nilai dapat didiskusikan secara terbuka.

“Proses ideologisasi itu penting menangkal radikalisme, namun dunia pendidikan juga harus menjamin kebebasan akademik, artinya tetap memperbolehkan diskusi wacana radikalisme dengan tetap ilmiah dan kritis,” papar Ade

Kampanye anti radikalisme dan toleransi yang dilakukan oleh pemerintah, sambung Ade, akhir-akhir ini diharapkan dapat menjangkau lembaga-lembaga pendidikan di tanah air melalui Kemendikbud, Kemenag, dan Kemenristekdikti.

“Sekolah harus dibekali kerangka kerja dan program untuk menumbuhkan sikap moderat dan toleransi. Imbauan dari Kemendikbud agar pihak sekolah berperan aktif dalam melawan bahaya terorisme perlu terus disosialisasikan. Harapan kita, semua lembaga-lembaga pendidikan harus aktif mengkampanyekan anti radikalisme dan ektrimisme,” tutup Ade.

Penulis : AA|Editor : SD