IBC, JAKARTA – Menghadiri acara seni pertunjukan “Tari Ibu-Ibu Belu, bertema ‘Bodies Of Border’, di Komunitas Salihara Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2020), Eksekutif Producer acara Ratnasari mengatakan, bahwa seni pertunjukan Tari Likurai bagian warisan leluhur yang harus terus didukung dan dibangkitkan.

“Seni pertujukan ini bagian dari warisan leluhur yang harus terus didukung dan bangkitkan. Sebab ini bagian dari perekat bangsa dan NKRI,” ujar Sari panggilan karibnya, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (7/2/2020).

Selain itu lanjut CEO Langit Pitu ini menambahkan, acara tersebut berkolaborasi dengan Maestro Tari Eko Supriyanto sebagai Koreografernya yang mempersembahkan Tari Ibu-Ibu Belu, dengan tema, “Bodies Of Border”.

Eksekutif Producer, seni pertunjukan Tari Ibu-Ibu Belu ‘Bodies Of Border’, di ujung paling kiri Ratnasari, di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (6/2/2020). Foto : Ist

Selain itu ia juga menuturkan bahwa tarian itu juga dilakuan riset terlebih dahulu, sehingga menjadi sebuah karya yang indah, yakni Tari Ibu-Ibu Belu ‘Bodies Of Border (Red) tersebut’.

“Tari Likurai ini memiliki pesan yang sangat mendalam, bahkan di riset dulu. Nah ini pesan moral yang ingin disampaikan bahwa bersatu itu indah dengan segala keragamannya,” terang perempuan pencinta seni ini.

Berpisah hanya akan menimbulkan luka, sambung Sari, maka ia ingin mengajak segenap anak bangsa untuk mencintai persatuan dan kesatuan bangsa. “Karena persatuan itu indah seindah tarian ciptaan Mas Eko,” kata Sari yang konsisten dengan warisan leluhur ini.

Ceo Langit Pitu, Ratnasari bersama Wakil Bupati Belu J.T. Ose Luan, dan Koreografer Eko Supriyanto, di Salihara Pasang Minggu, Kamis (6/2/2020). Foto : Ist

Saat ditanya arti dan makna dari tarian Likurai itu, Sari menjawab, bahwa Ibu-Ibu Belu ‘Bodies off Border‘ itu menggambarkan ibu-ibu di perbatasan NTT dan Timor Leste ada duka dan air mata terpisah dari keluarganya.

Lebih lanjut Sari menjelaskan, melalui penjelajahan tentang gerak, ritme, musik dan tradisi tekstil, Eko menunjukkan bawa tarian Likurai membawa pesan kekerabatan orang-orang yang kini terbagi oleh batas-batas politik yang memisahkan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan negara tetangga Timor Leste.

“Nah pesan itulah yang ingin disampaikan dari acara ini, selain persatuan juga menggambarkan sedihnya berpisah akibat persoalan politik. Semoga dengan adanya seni pertunjukan tari Likurai ini menjadi perekat kita,” pungkas wanita yang konsen berjuang mempertahankan NKRI melalui pentas-pentas seni warisan nenek moyang ini.

Untuk diketahui Tari Likurai ini telah ditampilkan dalam acara Asean Games beberapa waktu lalu, dan ditampilkan juga pada acara HUT RI Ke-74 di Istana Negara.

Penulis : AI|Editor : SD
Foto Utama : Djajus