IBC, TALIABU – Durian merupakan salah satu buah-buahan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat pada umumnya, seperti akhir-akhir ini yang sementara membludaknya buah tersebut di Desa Minton, Kecamatan Taliabu Utara, Kabupaten Pulau Taliabu.

Tepat pada awal Februari tahun 2020, sepanjang jalan Desa Minton kembali dibanjiri buah Duren yang tak terhitung jumlahnya, hal ini memperlihatkan adanya keunggulan desa terhadap suatu produk alam.

Ironinya, hal tersebut tidak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, dan fenomena ini dari tahun ketahun hanya sekedar wacana yang terabaikan dan dianggap biasa saja, sebab belum ada pendongkrak dari Pemerintah setempat untuk menyentuh pada tingkat perekonomian yang lebih besar.

Kepala Desa Mintun Cosmos Batubara saat mengungkapkan dilema oleh momentum yang setiap tahun terjadi mengenai banyaknya Durian yang tidak menjadi komoditas utama,

“Untuk itu, saya khawatir jika keunggulan buah Durian yang berada pada masyarakat itu terus dibiarkan begitu saja tanpa ada pengembangan,” ungkapnya saat ditemui wartawan di lediamannya, Senin (9/2/2020).

Dirinya sangat menginginkan agar buah Durian yang dimiliki oleh seluruh warga Desa Mintun bisa distimulasi nilai ekonomi masyarakatnya, namun keinginan tersebut selalu terhambat oleh jalur pemasaran yang belum memadai.

“Kami sekarang ini masih pusing, Durian menumpuk seperti ini kita akan pasarkan kemana, palingan untuk makan saja, itupun lebih banyak membusuk dipohon,” papar Cosmas.

Menurut Cosmos tertutupnya jalur pemasaran Durian dalam sebagai sumber pemanfaatan ekonomi berada pada akses transportasi yang belum memungkinkan.

“Kalau kita muat di kapal, palingan hanya mampu ratusan buah saja,  itupun pihak kapal kadang jarang untuk terima, apalagi saat ini musim ombak, sedangkan semua warga disini rata rata punya pohon Durian, termasuk saya,” tegasnya

Sambungnya, bukan hanya jalur laut, begitu pun darat lebih tidak memungkinkan, sebab kondisi jalan yang rusak tentunya akan susah untuk ditempuh ke Kota Kabupaten yang sangat rentan terhadap keadaan cuaca.

“Kalau kita bawa lewat  darat, makin parah lagi, belum setengah jalan sudah harus balik,” Tutupnya.

Penulis : Havid | Editor.  : AS