IBC, JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) H. M. Tito Karnavian, mendorong pertumbuhan ekonomi guna mengantisipasi bonus demografi di tanah air. Hal ini disampaikan Mendagri saat membuka Rakornas Kepala BPSDM Provinsi dan Kepala BKPSDM Kab/Kota Seluruh Indonesia di Auditorium Lantai 4 BPSDM Kemendagri, Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (24/02/2020).

“Kita menghadapi fenomena yang bisa positif dan bisa negatif. Karena dengan adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi maka otomatis akan menghasilkan jumlah penduduk angkatan muda yang tinggi pula, disebut bonus demografi. Ini akan menjadi peluang apabila menjadi tenaga kerja yang potensial, tetapi bisa jadi bencana kalau mereka tidak bisa bekerja,” jelasnya.

Menurut Mendagri, program-program Presiden juga sudah sangat membantu dalam mendorong pertumbuhan ekonomi guna mengantisipasi bonus demografi yang sifatnya negatif. Maka yang perlu dikerjakan sekarang adalah mengenal dan membedah masalah mulai dari sumbernya.

“Yang perlu kita sadari bersama bonus demografi yang sudah lahir ini adalah hilir, maka kita harus mencari juga hulunya. Hulunya yaitu angka kelahiran tinggi dan bagaimana kualitas SDM-nya,” kata Tito.

Jadi lanjutnya, bagaimana kita bisa menekan angka kelahiran dan yang lahir ada manusia yang punya potensi untuk menjadi tenaga kerja yang produktif ke depannya, tidak stunting. Dan untuk yang sudah lahir, bagaimana memanfaatkan mereka menjadi tenaga kerja yang produktif.

Mendagri juga berharap agar seluruh lembaga yang bersangkutan dan masyarakat Indonesia dapat bekerjasama dan berpikiran terbuka terhadap program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), KB dan program lainnya.

“Mungkin masih ada yang beranggapan alergi dengan program Orba. Padahal sebetulnya banyak program yang positif,” ucap Mantan Kapolri ini.

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai kurang lebih 263 juta jiwa, dari sisi positif, Mendagri melihat bahwa SDM yang banyak bisa menjadi instrumen positif bagi negara untuk mendominasi negara lain, khususnya di bidang ekonomi.

“Kalau kita bicara ekonomi tidak akan lepas dari produksi, siapa yang mampu membuat mesin produksi yang lebih masif maka akan mendominasi yang lain. Dan kalau bicara produksi tidak akan lepas dari angkatan kerja. Kita bisa menjadi negara yang potensial untuk mendominasi, asalkan tenaga kerjanya potensial,” pungkasnya.

Penulis : AI|Editor : DB