IBC, JAKARTA – Serikat Pekerja Twin Plaza Hotel yang melakukan aksi mogok kerja akibat pihak manajemen yang sudah 4 sampai 5 bulan terlambat membayarkan hak-hak (gaji/upah) karyawan dan pekerja kontrak.

Pasalnya, menurut Ketua Serikat Pekerja Twin Plaza Hotel, Rudy Kusbiantoro mengatakan kepada IBC saat dihubungi melalui sambungan selularnya, Sabtu (21/3/2020), bahwa pihak manajemen mengaku mengalami penurunan pendapatan.

Kendati demikian bukan serta merta hak-hak karyawan dan pekerja kontrak sebanyak 130 orang tidak dibayarkan. “Sudah 4-5 bulan manajemen perusahaan hotel terlambat tidak membayar upah, uang service, dan puncaknya di bulan februari sudah 25 hari ini kami tidak mendapatkan hak-hak sebagai pekerja,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Rudi, bahwa ia dan karyawan lainnya telah melakukan perundingan dengan pihak manajemen perusahaan, namun hal itu mengalami deadlock, tidak menemukan titik temu. “Berunding sudah berapa kali, yang diwakili pihak manajemen, tapi deadlock terus,” tegas dia.

Pihak manajemen juga berjanji kepada karyawan, bahwa pihak manajemen baru akan melaporkan kepada pemilik saham mayoritas Hendra Lie juga merupakan pemilik Mata Elang Production. “Manajemen berjanji akan melaporkan kepada pemegang saham mayoritas bapak Hendra Lie (Mata Elang Production),” beber Rudi.

Namun hingga saat ini karyawan masih juga belum menerima upah, dan uang servicenya, “Apabila janji itu tidak dipenuhi kami akan melakukan aksi mogok kerja secara resmi hari senin 23 Maret ini di lobi hotel Slipi, Jakarta Barat,” lanjutnya.

Rudy juga menambahkan, sebanyak 130 karyawan yang upah dan uang servicenya yang belum dibayarkan pihak perusahaan, sebagian dibayar sebesar 25 persen, namun sebagian karyawan tersebut mengembalikannya lagi, sebab kata Rudy karyawan merasa dihina dengan dibayar sebesar 25 persen dari upah tersebut. “Kami kembalikan lagi kepada manajemen, sebab pembayaran sebesar 25 persen, kami seperti dihina,” tuturnya.

Selain itu, Rudy juga mengatakan, bahwa selama ini karyawan masih mendapatkan Upah Minimun Sektoral Provinsi (UMSP) DKI Jakarta tahun 2019, padahal kata Rudy seharusnya pihak perusahaan sudah menggunakan UMSP DKI Jakarta tahun 2020 yang diberlakukan sejak Januari yang lalu.

“Jadi kami selama ini masih menerima upah minimum sektoral provinsi DKI Jakarta tahun 2019, harusnya kan pihak perusahaan sudah berlakukan UMSP tahun 2020,” papar dia.

Oleh karena itu apabila pihak perusahaan tidak juga memberikan hak-haknya, maka ia dan pengurus lainnya akan melakukan aksi mogok besar-besaran bersama Federasi Serikat Pekerja Mandiri yang merupakan gabungan dari Hotel, Restoran, Ritail dan Apartemen se-Jabodetabek.

“Kalau perusahan dan owner Hendra Lie nggak juga penuhi janji, kami akan melakukan aksi mogok skala besar, di Lobi hotel,” imbuhnya.

Sekarang sambung Rudy, ia dan rekan-rekannya mencari kerja sampingan seperti narik ojek online, sebab kata dia, harus memenuhi kebutuhan keluarga.

“Sekarang kami harus bertahan hidup untuk penuhi kebutuhan keluarga, nggak mudah dengan kondisi sekarang cari kerja yang lain dengan adanya virus Korona. Jadi kami narik ojek online aja agar penuhi kebutuhan hari-hari,” tandas Rudy.

Adapun tuntutan karyawan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Twin Plaza Hotel, Slipi Jakarta Barat, sebagai berikut, pertama, pihaknya meminta untuk dibayarkan Upah dan Dendanya serta uang Service karyawan, kedua, Bayarkan Upah dan service tepat waktu, ketiga, Berlakukann Upah Minimun Sektoral Provinsi (UMSP) DKI Jakarta, tahun 2020 sektoral perhotelan, keempat, memperbaiki manajemen hotel.

Untuk diketahui seperti dilansir dari Tribunnews.com bahwa selain pemilik saham mayoritas Twin Plaza Hotel Hendra Lie juga merupakan merupakan Direktur Utama PT Mata Elang Internasional Stadium.

Penulis : APG|Editor : SD