IBC, JAKARTA – Tuduhan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto yang mengatakan kelangkaan dan kenaikan harga gula akibat adanya permainan dari PT Perkebunan Nusantara II atau PT PN II mendapatkan tanggapan dari Juru Bicara Komite Penggerak Nawacita, Dedy Mawardi. 

Menurut Dedy, bahwa kelangkaan justru disebabkan oleh Menteri Perdagangan itu sendiri, sebab kata dia, Mendag dan jajarannya tidak dapat menghitung dengan tepat daya serap kebutuhan gula nasional. Apalagi lanjutnya, datangnya musim giling tahun 2020. 

“Kalau Kemendag bisa menghitung dengan cermat dan benar maka seharusnya bulan Desember 2019 kebijakan izin import gula raw sugar sudah dikeluarkan untuk memenuhi stok gula nasional dari bulan Januari hingga Mei 2020. Sedangkan kebutuhan gula nasional bisa terpenuhi dari musim giling 2020 yang dimulai pada Juni,” terang Sekjen Seknas-Jokowi ini. 

Faktanya sambung Dedy, izin import itu baru dikeluarkan pada sekitar bulan Februari-Maret 2020. Padahal produsen gula baik yang BUMN maupun swasta sudah teriak-teriak agar izin import gula segera di keluarkan.

“Sekitar Februari dan Maret 2020 izin import baru dikeluarkan. Ini sangat terlambat!! Jadi nggak heran di awal tahun 2020 harga gula sudah melewati harga eceran tertinggi Rp 12.500 per-kilogram, bahkan harga gula pernah tembus di harga Rp 18.500 per-kilonya,” ungkap Dedy.

Selain itu, proses pengadaan gula import yang baru mulai di buka pada Februari- Maret ini pun sempat berhenti karena pendemi global Corona. Negara-negara penghasil raw sugar seperti Australia, India dan Thailand me-lockdown, sehingga tidak ada pengiriman raw sugar ke Indonesia.

“Import raw sugar baru masuk bulan April yang di kelola RNI, sementara yang lain masih dalam proses pengiriman yang diperkirakan awal Mei baru tiba di BUMN gula dan pabrik swasta,” imbuhnya. 

“Pernyataan Mendag Agus Suparmanto yang mengatakan harga gula yang tinggi karena kasus PTPN II merupakan cermin dari sikap mendag yang tidak mau disalahkan oleh adanya situasi gula yang defisit dan tingginya harga gula di pasar nasional. Jadi kalau Mendag faham tentang tata niaga gula nasional mungkin saja tidak terjadi defisit gula dan tingginya harga gula di pasar nasional,” pungkas Dedy yang juga beprofesi sebagai Advokat ini. 

Penulis : AI|Editor SD