IBC, LABUHANBATU – Oknum pengusaha di Rantauprapat diduga terlibat atas penggarapan puluhan hektar hutan lindung di Dusun Mailil Julu, Desa Bandar Kumbul, Kecamatan Bilah Barat Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara menjadi kebun kelapa sawit.

Pengusaha yang diketahui berinisial HS alias Soik diduga telah mengelola hutan lindung seluas 20 hektar yang dialih fungsikan sebagai kebun kelapa sawit sejak tahun 2005.

HS yang merupakan warga Jalan KH Agus Salim Rantauprapat ini, diduga sudah puluhan tahun menikmati hasil kelapa sawit dilahan hutan lindung negara yang letaknya bersebelahan dengan lahan PT Siringo-ringo. Padahal dahulunya PT Siringo-ringo sempat tersandung kasus yang sama akibat menggarap lahan melampaui areal HGU hingga hutan lindung.

“Sudah dua tahun belakangan ini gak ada urusan saya lagi soal lahan itu, lahan itu sudah punya orang lain,” kata HS, yang ditemui wartawan di toko sekaligus kediamanya, Sabtu (9/5/2020) pagi.

Pria yang akrab disapa Soik ini mengaku jika lahan kebun sawit miliknya memang merupakan hutan lindung, namun sudah dijual olehnya kepada pihak lain sejak dua tahun silam. “Bukan dijual ya, maksudnya (lahan hutan lindung) diganti rugikan kepada orang lain,” ujarnya.

Menurut dia, jika sebelumnya pemilik hutan lindung merupakan Udin yang diketahui warga Jalan Tenis Rantauprapat, karena pemiliknya hutang kepada Soik, untuk membayar hutang-hutang tersebut Udin kemudian menyerahkan lahan tersebut kepadanya. “Yang membuat jadi Kebun Sawit ya Udin, dan kebun itu atas nama istrinya,” bebernya.

Soik mengelak saat dikatakan dirinya sering turun dan mengelola lahan itu, serta lahan tersebut diketahui masyarakat dikelola oleh abang iparnya usai Udin tak lagi bekerja sama dengan dirinya. “Saya nggak pernah mengurusin itu, kalaupun masyarakat ada melihat, mungkin pemiliknya yang sekarang,” pungkasnya.

Untuk memastikan pengakuan Soik, wartawan kemudian melakukan konfirmasi kepada Safruddin alias Udin Soocer (57) yang diakui Soik sebagai pemilik awal dan pembangun kebun kelapa sawit ini.

Anehnya Safrudin malah mengaku hal sebaliknya, bahwa namanya hanya dicatut untuk mengurusi kebun kelapa sawit dilahan hutan lindung, agar aset milik Soik tersebut terlindungi.

Bahkan dia blak- blakan terkait peristiwa alih fungsi lahan hutan yang dilakukan Soik. Menurut Safrudin, bahwa memang benar dahulunya lahan hutan lindung itu diperoleh dari masyarakat sekitar. Kemudian diatas namakan kepada Safrudin sebagai Modus pinjam nama seperti yang sering dilakukan oleh beberapa pengusaha.

“Jadi yang sebenarnya Soik itu pinjam nama saya, bukan nama istri saya. Kalau atas nama istri saya itu kebun yang lain lagi. Mungkin Soik yang lupa. Yang suruh menjadikan kebun kelapa sawit juga Soik kol,” terang Udin.

Ia pun sendiri mengaku kesal, mengapa setelah hutan lindung itu menjadi masalah, Soik malah melibatkan dirinya. Dia juga mengakui sudah kerap didatangi aparat dan LSM mempertanyakan soal hutan lindung tersebut.
Ketika disinggung apakah benar Soik telah menjual lahan tersebut kepada orang lain? Udin menegaskan setahu dirinya bahwa sampai saat ini lahan itu masih dikuasai oleh Soik, dan dia sendiri belum pernah menandatangani surat ganti rugi kepada orang lain.

Udin mengaku dirinya sudah lelah memegang rahasia antara dirinya dan Soik terkait lahan tersebut, karena Soik kerap melemparkan tanggungjawabnya kepada Safrudin jika terjadi masalah. Sehingga Udin malah berniat membongkar praktik ilegal yang sangat merugikan Negara itu, dan berharap pelaku sesungguhnya akan dihukum setimpal setelah menikmati hasil kebun sawit dari garapan hutan lindung puluhan tahun lamanya.

“Kalau Soik terus begini, saya harus bongkar ini, Soik sudah puluhan tahun menikmati hasil garapan hutang lindung sejak tahun 2005, saya siap bersaksi dengan sebenarnya dan berharap pelaku sesungguhnya di hukum setimpal,” pungkasnya.

Terlebih menurut dia, sejumlah aparat dan beberapa LSM sudah sering mencari-carinya menanyakan soal hutan lindung tersebut. “Kalau dipanggil, saya siap berikan kesaksian kepada penyidik,” tegasnya.

Disinggung bagaimana bisa lahan lindung itu dijadikan kelapa sawit, Udin menuturkan. Awalnya lahan tersebut dibelinya langsung dari masyarakat setempat dengan kondisi masih berbentuk hutan. Atas perintah Soik, Udin menyulap hutan lindung tersebut menjadi kebun kelapa sawit yang tepat berdampingan dengan Perkebunan PT Siringo-Ringo.

“Karena saya yang mengelolanya, jadi saya yang terjun kelapangan langsung, dan itu atas perintah Soik, dan masyarakat sekitar juga taunya itu kebun milik Soik, juga pada saat itu yang berhubungan dengan penjual langsung saya, makanya surat atas nama saya,” bebernya.

Diketahui, belakangan Udin tidak lagi mengurusi kebun tersebut karena abang ipar Soik yang langsung mengurusinya.

Editor : YES
Foto : Ilustrasi/Trubus.id