IBC, JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) RI diminta untuk memerintahkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkulu untuk segera melanjutkan kasus penganiyaan dan pembunuhan yang diduga melibatkan Novel Baswedan ke meja hijau.

Ketua rombongan Badan Eksekutif Mahasiswa Bina Sarana Informatika (BEM BSI) Cut Mutia Bekasi, Izul Fikri mengaku sangat bersimpati dengan aksi menuntut keadilan yang dilakukan oleh empat korban. Dimana mereka jauh-jauh dari Bengkulu untuk menuntut keadilan. Para korban pun terpaksa mendirikan tenda seadanya sekedar untuk berlindung dari panas, hujan, dan dinginnya malam.

“Kami datang hari ini ingin menunjukan kepedulian mahasiswa terhadap para korban penembakan yang dilakukan oleh Novel Baswedan, jujur saja kami prihatin,” ujar Izul Fikri kepada wartawan, Rabu (24/6/2020).

Berkas perkara kasus tersebut sebenarnya sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Bengkulu pada 29 Januari 2016 lalu.

Selanjutnya pada 2 Februari 2016, JPU menarik kembali surat tuntutan dengan alasan mau menyempurnakan dakwaan.

Namun setelah ditarik, pada 22 Februari 2016, Kejagung tiba-tiba mengeluarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP) dengan Nomor B-03/N.7.10/Ep.1/02/2016. Surat tersebut ditandatangani oleh Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu. Kejaksaan berdalih, kasus Novel Baswedan tidak cukup bukti dan sudah kadaluarsa.

Tak terima, pihak korban kemudian menggugat SKPP Kejaksaan Negeri Bengkulu ke Pengadilan Negeri Bengkulu melalui Praperadilan. Alhasil, Hakim tunggal Suparman dalam putusannya ketika menyatakan SKPP Kepala Kejaksaan Negeri Bengkulu terhadap Novel Baswedan tidak sah.

Selanjutnya >>>