Pak Gatot Nurmantyo Terikat Sumpah Sapta Marga, Harusnya Kedepankan Persatuan Bangsa.

IBC, TANGSEL – Pernyataan mantan Panglima TNI (Purn) Gatot Nurmantyo belakangan ini dianggap Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan yang juga alumni GMNI, Wanto Sugito sangat berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

“Saya prihatin dengan langkah politik yang dilakukan oleh Pak Gatot Nurmantyo. Pak Gatot dengan segala hormat, kami menyesalkan berbagai pernyataan Bapak yang terus saja memecah belah bangsa, dengan membangkitkan trauma 1965,” ujar Wanto dalam rilisnya yang diterima redaksi, Rabu (23/9/2020).

Menurutnya, ketika Ibu Mega menjadi Presiden, tidak ada dendam pada Pak Harto dan kroninya.

“Bahkan 14 Gubernur dari daerah penting diambil dari TNI karena kedepankan rekonsiliasi. Kemudian Bung Karno Proklamator Bangsa, selalu ada Bung Karno di dalam setiap perumusan dasar negara. Jadi PDI Perjuangan sangat kokoh di dalam memegang dan menjalankan falsafah bangsa Pancasila,” tukas pria yang akrab disapa Klutuk oleh kalangan aktivis reformasi 98 ini.

Dirinya menambahkan, rakyat juga mencatat bagaimana tuduhan Pak Gatot terkait ada kekuatan besar PKI yang berada di balik penghentian pemutaran film G30SPKI, program pelurusan sejarah, termasuk sikap TAP MPRS no XXXIII tahun 1967 ternyata tanpa bukti.

“Di balik tuduhan tidak mendasar itu ada tokoh-tokoh besar seperti Letjen TNI Purn Muhammad Yunus Yosfiah, Prof Dr Juwono Sudarsono dan Presiden Habibie dimana pemerintahannya tidak mewajibkan kembali pemutaran film G30S PKI,” kata Alumni UIN Syarif Hidaytullah ini.

Lanjutnya, demikian halnya Presiden Gus Dur yang menyampaikan sikapnya atas TAP MPRS No 33 tersebut.

Jadi secara tidak langsung, katanya, Pak Gatot menuduh beliau-beliau tersebut adalah PKI. Pernyataan tendensius penuh ambisi politik itu, mohon maaf tidak layak disampaikan oleh Pak Gatot.

“Untung ada bang Usman Hamid dari aktivis Kontras yang mematahkan seluruh argumentasi tidak benar tersebut,” paparnya.

Perlu dicatat, kata Wanto, di PDI Perjuangan seluruh anggota dan kader Partai dididik untuk membumikan Pancasila dengan seluruh benang merah sejarahnya.

“Para calon kepala daerah yang bukan PDIP pun dilatih, tanya saja mereka, terhadap seluruh materi yang diajarkan. Semua untuk hadirnya pemimpin negarawan yang menyatukan bangsa,” tegasnya.

“Saya jadi membandingkan, bagaimana Panglima Besar Jendral Sudirman selalu mengobarkan nasionalisme, persatuan nasional, dan juga juga kehebatan sejarah masa lalu yang hebat,” lanjutnya.

Wanto mengaku, pihaknya lebih meneladani Pak Dirman, daripada Pak Gatot yang selalu hadirkan ketakutan, ancaman, dan juga hal-hal negatif tentang Pak Jokowi.

Katanya, kepemimpinan Pak Dirman itu selalu menyatukan. Rakyat makin cerdas melihat mana pemimpin yang menyatukan dan mana yang memanfaatkan tragedi masa lalu untuk kepentingan politik praktisnya.

“Pak Gatot mohon maaf, bukankah Bapak masih terikat pada Sumpah Sapta Marga? Alangkah baiknya jika Bapak meneladani kepemimpinan Panglima Besar Sudirman daripada membuat pernyataan yang bernada menghasut,” jelasnya.

Wanto Sugito yang juga aktivis mahasisa 98 lulusan UIN Syarif Hidayatullah Ciputat ini mengingatkan pak Gatot, bahwa belakangan yang telah diutarakan soal kebangkitan PKI hanya membuat gaduh dan fitnah.

“Wal Fitnatu Asyaddu Minal Qotli. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan,” tutupnya.

Penulis : RHM|FDS