IBC, TANGERANG – Kaburnya warga negara asing (WNA) terpidana mati kasus bandar besar narkoba, Cai Changpan alias Cai Ji Fan dari Lapas Kelas I Tangerang, Banten, Senin (14/9/2020) menimbulkan banyak kejanggalan, pasalnya menurut Wakil Ketua Komisi III DPR RI Adies Kadir, tidak ada bekas galian dan alat-alat yang digunakan, juga tidak tahunya sipir atau pengawas Lembaga Pemasyarakatan terkait adanya lubang galian tersebut.

Adies yang memimpin langsung kunjungan spesifik Komisi III DPR RI ke Lapas Kelas I Tangerang, Rabu (23/9/2020) untuk memastikan langsung dan melihat tempat kejadian perkara (TKP).

“Kenapa orang di sekitar bisa tidak mendengar, karena ini kan jarak kamar sel sampai ke luar lapas terbilang jauh sekali ya, hampir 30 meter,” ujarnya.

Menurut Adies, ada kemungkinan hal tersebut digali dari luar, namun dari luar pun kata dia, perhitungannya mungkin membutuhkan dua dump truck. “Pertanyaannya apa betul ada gorong-gorong di dalam? Ini harus dilihat, dan betul-betul dimasuki,” ucap politisi Partai Golkar ini.

Ia menilai hal itu sangat tindak mungkin satu orang dengan panjang alat yang kurang dari 20 centi meter (cm) dapat menggali ribuan kubik tanah. Bahkan lanjutnya, tidak diketahui dimana diletakkannya tanah bekas galian tersebut.

Untuk itu, Komisi III DPR RI akan melakukan koordinasi dengan Polda Metro Jaya, memanggil instansi lain yang berkompeten untuk masuk ke dalam dan memastikan benar ada atau tidaknya jalur dari dalam sel menuju ke luar sel tersebut.

Pihaknya ingin mengetahui modus operandinya seperti apa, sambung Andies, tentunya Adies tidak ingin hal serupa terulang kembali. Karena, kejadian seperti ini tidak hanya sekali, sudah berulang kembali. “Maka dari itu kami tidak ingin ke depannya hal-hal yang seperti ini terjadi lagi,” ungkapnya.

Komisi III DPR RI juga berkesimpulan akan melakukan investigasi lebih lanjut ke Polda Metro Jaya, demi mengusut tuntas terkait persoalan yang terjadi tersebut. Untuk selanjutnya kata Adies dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas).

Melalui investigasi tersebut ia menambahkan, untuk melihat dan mengungkap apakah ada keterlibatan oknum baik dari dalam dan luar Lapas. “Kita ingin agar sistem di Lapas ini bisa berjalan dengan baik sehingga kasus serupa tidak lagi terulang,” pungkasnya.

Masih di tempat yang sama, Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Banten R. Andika Dwi Prasetya menjelaskan, sejak dilaporkannya kasus ini, ia sudah memerintahkan Kepala Divisi Pemasyarakatan dan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) untuk melakukan pendalaman dan pemeriksaan.

Imbuhnya, dari hasil pemeriksaan terdapat personil yang bertanggungjawab, dalam berita acara tersebut personil yang bertugas itu sedang tertidur saat melakukan penjagaan.

Untuk diketahui, Napi yang merupakan seorang bandar besar narkoba dari Republik Rakyat Tiongkok tersebut telah divonis hukuman mati, ia kabur diduga dengan cara membuat lubang dari kamar tahanannya, dan tembus ke gorong-gorong saluran air berada di luar Lapas.

Penulis : RHM|PRL