Oleh: Yaban Ibnu
Jaringan Pemuda Indonesia
(JPI)

“Kita harus optimis bahwa Indonesia bisa berpeluang untuk pulih. Perlambatan ekonomi negara-negara untuk bangkit dari pandemi Covid-19 semuanya mengalami hal serupa. Namun, selambat-lambatnya kita masih bisa masuk rangking ke-5 dunia pada 2024. (Erick Thohir/Menteri BUMN).

Sejak masuk dalam dunia politik dan terpilih menjadi Ketua Tim Pemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019, sosok Erick Thohir kembali menjadi perbincangan publik di tanah air. Bahkan sebelum masuk di dunia politik-pun, nama Erick Thohir sudah booming sebagai pembisnis sukses Indonesia yang pernah menjadi pemegang saham klub bola legenda Italia yakni Inter Milan, hal itu sebagai langkah berani Menteri BUMN.

Kemunculannya sebagai pengusaha hingga kiprahnya menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), namanya kembali mewarnai jagat media social lantaran gebrakannya yang yang merombak internal BUMN secara besar-besaran. Pro kontra terkait gebrakannya menuai kecaman dan kritikan dari berbagai pihak elemen masyarakat.

Terlepas dari pro kontra tersebut, Erick Thohir telah berkomitmen bahwa gebrakannya tersebut semata-mata demi perbaikan BUMN ke depannya, dan menyelamatkan ekonomi Indonesia di tengah Pandemi Covid-19.

Kerja profesionalitas dan sigap menjadi karakter kepemimpinan Erick Thohir dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin. Keberanian dalam mengambil langkah perombakan beberapa petinggi BUMN dilakukan guna meningkatkan rasio efisisensi, pemasukan laba BUMN serta menciptakan lingkungan yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme.

Di tengah gebrakan keberanian dan ketepatan langkah Menteri BUMN masih banyak yang menilai, bahwa kepemimpinan Erick Thohir gagal. Dan itu merupakan penilaian yang sangat tendesius cenderung provokatif.

Terjadinya beberapa masalah di BUMN misalnya, pengurangan jumlah karyawan di BUMN, dan terjadinya kerugian Pertamina bukan menjadi barometer kegagalan Erick Thohir, melainkan itu adalah kondisi global yang disebabkan oleh pandemi covid-19.

Mengenai kerugian Pertamina, jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan (migas) dunia justru pertamina kita mengalami kerugian yang sedikit dibandingkan dengan beberapa perusahaan-perusahaan migas dunia.

Profesionalitas kepemimpinan Erik Thohir juga tercermin ketika sedang menghadapi situasi dan tekanan akibat celotehan Ahok. Kegaduhan yang terjadi beberapa hari lalu sempat membuat masyarakat resah dan geram.

Erick Thohir lebih memilih jalan penyelesaian dengan musyawarah dengan cara memanggil Basuki Tjahja Purnama (Ahok) selaku Komisaris Utama (Komut) Pertamina. Sikap cerdas untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, khususnya di internal telah mengembalikan keadaan harmonis, tentu akan memperkuat soliditas internal.

Satu hal yang perlu kita garis bawahi, bahwa semua hal yang dilakukan Erick Thohir adalah semata-mata sebagai bentuk jalan pengabdian yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat dan kemajuan negara.

Tentang kemungkinan-kemungkinanan yang terjadi di luar batas nalar dan kemampuan manusia (kehendak tuhan) harus kita sadari juga. Dan yang lebih pentingnya sekarang, ialah memprioritaskan kerja bersama, yakni menyusun langkah-langkah kongkrit dan mendukung segala kebijakan yang bertujuan untuk kebaikan bangsa Indonesia.

Dalam hal ini sebagai masyarakat yang cerdas harus juga disertakan solutif guna untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh pemerintah, khsususnya di tubuh BUMN saat ini. Bukan justru sebaliknya, menjadi peracik kebencian dan penebar fitnah.

Isu miring tentang Menteri BUMN beredar, tudingan bahwa Erick Thohir telah gagal menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai ketua pelaksana Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) merupakan tudingan yang menyesatkan masyarakat.

Namun faktanya, sejauh ini Program PEN terus dilaksanakan, bahkan sebagai bentuk transparansi dan supaya dana yang dikucurkan pemerintah kepada BUMN dapat dikelola serta disalurkan dengan baik, tepat sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Oleh sebab itu, Erick Thohir pun telah menggandeng KPK untuk bersama-sama mengawal anggaran tersebut.

Sementara di sisi lain, beredar narasi bahwa konflik sosial, keamanan dan kenyamanan, meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan serta Drop Out (DO) mahasiswa semata-mata akibat dari kegagalan Erik Thohir.

Ini merupakan narasi kebencian dan pesimisme akut di tengah gelombang optimisme bangsa Indonesia yang sedang berjuang melawan Pandemi Covid-19, dan memulihkan Ekonomi Nasional yang terancam resesi.

Kita harus percaya bahwa saat ini semua negara sedang berjuang untuk pulih dari kondisi ekonominya masing-masing. Indonesia sendiri harus optimis dan lebih siap menghadapi kondisi ini.

Untuk itu dukungan dari semua elemen masyarakat dan organisasi-organisasi besar akan menjadi kunci penting mempercepat Indonesia melewati krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.
Wallahu a’lam bishawab……