Oleh : Vetris

Mahasiswa 98 hanya butuh tidak lebih dari setahun sejak berhasil membuka gerbang kampus yang dijaga aparat untuk keluar dan turun kejalan lalu menjatuhkan rezim kediktatoran

Sementara generasi TikTok, tak menghasilkan apapun meski sudah berkali-kali dan bertahun-tahun rutin turun kejalan yang ternyata hanya untuk menjadi bemper dan tempat menitip isu bagi elit politik dan penumpang gelap yang ingin berkuasa melalui cara-cara yang kampungan.

Mahasiswa 98 itu lebih sedikit jika jika dibandingkan dengan jumlah demonstran saat ini tapi kualitas dan kemurnian menentukan gerakan, Ibarat sekali pacaran langsung kepelaminan

Sementara generasi TikTok seperti buih dilautan, hanya banyak namun tak berarti apa-apa, bahkan hanya merugikan dari kerusakan yang ditinggalkan ibarat berkali-kali pacaran, tapi hanya menjadi obyek percobaan. Ini yang disebut dengan fakultas bucin jurusan cabe-cabean

Mahasiswa 98 hanya satu suara tak ada yang terpecah, semua tuntutan datang dari rakyat yang merasa kalah karena kekejaman para penguasa

Sementara generasi TikTok hanya untuk hura-hura dimana tuntutan datang dari kontestan yang kalah dan putus asa dalam pemilu yang sah.

Mahasiswa 98 bergerak karena memgalami sendiri penindasan yang dilakukan penguasa baik penindasan dari segi budaya, politik, hukum, pendidikan dan lain sebagainya

Sementara generasi TikTok bergerak hanya berdasarkan hoax yang dibuat oleh seorang wanita yang kecewa karena kelompoknya kalah dari arena pertarungan demokrasi.

Berprilakulah layaknya kaum intelektual muda progresive, bahwa perjuangan yang murni itu bukan hanya turun kejalan yang dikabarkan melalui grup WA atau medsos, tapi juga harus memiliki cerita panjang melalui diskusi ilmiah, atau bisa disebut juga dengan istilah “coli intelektual”.

Dan yang lebih penting lagi jika ingin mendulang sukses seperti 98, maka turunlah keberbagai sektor perlawanan seperti buruh, Tani, Pelajar, KMK dan lain lainnya. Beri pendidikan politik bagi mereka karena disana juga akan langsung kau dengar berjuta keluhan.

Jika tak ada waktu lebih baik diam dirumah agar tak menjadi penular Corona. Atau jika tak percaya virus lebih baik hubungi kekasih, numpang di kos teman yang kosong karena ditinggal pulang kampung, lalu berbuatlah semaumu daripada harus turun ke jalan dengan topeng membela rakyat karena hanya meninggalkan kerugian dan kerusakan.

Aku tak pernah mengatakan bahwa aksi selama ini dilakukan oleh gerakan Mahasiswa, karena mahasiswa tak pernah dicokok hidungnya oleh elit partai.

Selama menjadi kupu-kupu yang mudah menerima informasi hoax dan mudah menjadi kerbau tunggangan elit politik, sepertinya sulit untuk menembus tembok istana. Dan selama itu, gerakan hanya dapat diulas untuk berita pagi bukan untuk sejarah dimasa depan.

Hidup aktifis medsos!

Penulis dengan nama lengkap Vera Tri Satria, ia adalah mantan aktivis mahasiswa pada masanya (1998). Pun kini ia mendedikasikan dirinya sebagai tenaga pengajar dan Pembina Pramuka di Sekolah dan beberapa Universitas di Jabodetabek.

Selain itu, penulis juga memiliki beberapa karya-karya nyatanya, seperti buku berjudul ‘Cinta Bersemi Saat Aksi’ (CBSA). Buku tersebut secara singkat menggambarkan sisi lain gerakan mahasiswa tahun 1998.

Foto : Depan, IG Pribadi Vetris.