IBC, JAKARTA – Menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober mendatang, Merial Institute bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI mengelar Simposium Pemuda.

Direktur Media Merial Institute Achmad Hafiz Huzaefah mengatakan saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan dalam aspek pembangunan berkelanjutan, khususnya sejak pandemi Covid-19 menghantam seluruh sektor strategis dalam kehidupan berbangsa.

“Pemuda telah menjadi bagian penting bagi Indonesia dan masa depan demokrasi. Pemuda berperan penting bagi pemerintah terutama dalam situasi pandemi Covid-19,” kata Hafiz melalui keterangan tertulisnya usai kegiatan webinar, Selasa (20/10/2020).

Maka itu dirinya berpendapat pentingnya mengetahui kompleksitas masalah dan tantangan yang ada di Indonesia, khususnya bagi pemuda sebab dirinya harapan bangsa.

Ket Foto : press conference virtual simposium 92 Tokoh Pemuda, Merial Institute.

”Berbagai laporan yang diterbitkan Merial Institute telah menunjukkan betapa banyak organisasi pemuda, komunitas penggerak, kerelawanan, influencer dan LSM yang telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka persebaran Covid-19. Mereka membantu mengorganisir masyarakat, memfasilitasi perencanaan, membangun kesadaran, memberikan bantuan teknis hingga membuat inovasi bagi Indonesia dalam menjawab tantangan Covid-19,” ungkap Hafiz.

Selanjutnya Hafiz menyatakan sumber daya manusia memegang peranan strategis dan sentral. Maka untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dalam jangka panjang dapat dilanda problem yang semakin berat.

“Kini Indonesia sudah mulai memasuki aging population, di saat pendapatan per kapita masih dalam level menengah sangat berpotensi masuk ke dalam middle income trap, di mana 10 tahun ke depan menurut rilis BPS di 2020 bahwa dependency ratio Indonesia akan meningkat pada tahun 2030 artinya tantangan pembangunan berkelanjutan akan semakin berat,” ucapnya.

Penduduk usia muda 15 hingga 45 tahun masih dominan dalam struktur demografi, namun perannya masih belum sefrekuensi dan sejalan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Belum lagi berbicara pada aspek penduduk usia muda yang energinya belum terakomodir dengan baik.

“Dalam konteks strategi pembangunan, yang ditekankan bukan seberapa cepatnya tapi apakah bisa terus berkelanjutan atau tidak. Faktanya stakeholder termasuk kementerian dan lembaga negara cenderung memiliki agenda masing-masing sehingga sulit untuk mewujudkan integrasi program kepemudaan antara stakeholder” imbuh Hafiz.

Meski Perpres 66 tahun 2017 telah berhasil disahkan untuk merajut dan memperkuat sinergi antar kementerian/lembaga negara dalam mendorong peningkatan kualitas dan peran pemuda dalam jangka panjang, Hafiz membeberkan masih terdapat kesenjangan mindset, skills, dan akses kesempatan di antara generasi pemuda.

“Pemuda dihadapkan pandemi Covid-19, resesi global, dan bencana generasi. Terjadi kesenjangan (gap) mindset, skills, dan akses kesempatan di antara generasi pemuda” bebernya.

Sambung Hafiz, Merial Institute berharap pada 10 tahun terakhir pemuda Indonesia benar-benar memanfaatkan momentum.

“Starting pointnya itu pada empat tahun pertama yakni 2021 – 2024. Di empat tahun pertama ini, bersama stakeholder, kami menginisiasi Festival Bonus Demografi pada momentum ini kami kembali mengajak refleksi konteks pemuda,” sambungnya.

Hafiz menjelaskan dalam waktu dekat Merial Institute bersama Kemenpora RI dan seluruh stakeholder mengadakan Simposium 92 Tokoh Pemuda dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda, yang akan dilaksanakan pada Minggu, 25 Oktober 2020 di Djakarta Theater.

“Simposium pemuda adalah sebuah harapan besar untuk berkolaborasi dalam pembangunan pemuda ke depan. Ribuan gagasan, ribuan insiatif, dan berbagai kegiatan telah dilakukan untuk Indonesia, dan 92 tokoh pemuda akan duduk bersama dalam semangat untuk bekerja sama menanggulangi berbagai masalah, sehingga mimpi kita untuk Indonesia yang lebih baik masihlah mungkin,” tandasnya.

Penulis : GKS | YES