IBC, TARAKAN – Dosen Universitas Borneo Tarakan (UBT) lakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan, Minggu (25/10/2020).

Kegiatan ini pun diinisiasi atas kolaborasi Dosen Fakultas Teknik (FT) dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan (FPIK) untuk kegiatan pemanfaatan alat cetak nori dengan metode sweep dan kontrol ketebalan.

Dosen FPIK UBT Tri Paus Hasiholan Hutapea menjelaskan perihal kedatangannya bersama tim ke UKM Rumput Laut AR-Raihan yang berlokasi di Kelurahan Pantai Amal, Kota Tarakan itu.

“Hari ini telah dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Merupakan salah satu tugas Tridharma perguruan tinggi selain meneliti dan mengajar,” ucap Tri usai memberikan materi dalam kegiatan pengabdian itu kepada awak media.

Menyambung pembicaraan Tri, Hadi Santoso selaku Ketua penyelenggara pengabdian mengatakan kegiatan pengabdian itu dibiayai oleh Kampus UBT terkhusus dibawah naungan lembaga LPPM.

“Jadi diawali dengan sebuah permasalahan yang dialami UKM AR-Raihan dalam proses pencetakan Nori dari rumput laut,” ungkap Hadi.

Dirinya menjelaskan, berdasarkan pengamatan dosen FPIK, bahwa hasil dari Nori yang dibuat oleh UKM AR-Raihan sebelumnya secara ideal belum baik sebab ukuran yang dihasilkan masih cukup tebal, maka perlu ada teknologi khusus atau teknologi sederhana yang bisa digunakan agar menghasilkan Nori dengan kualitas yang lebih baik.

“Maka itu saya merancang teknologi tepat guna dengan menggunakan bahan alumunium tampak seperti loyang oven namun ada sedikit modifikasi kontrol ketebalan. Ketebalan yang diharapkan sekitar 0,7 milimeter jadi dibawah 1 milimeter jadi cukup tipis, sehingga pas dikeringkan pula nanti hasilnya akan tipis,” terang Hadi.

Adapun loyang Nori itu berdiameter seperti kertas ukuran A4 atau 21 cm x 29 cm. Kemudian terdapat kontrol ketebalan 0,7 milimeter serta 3 sisinya diberikan ding-ding.

“Ada sistem sweep atau penyapu jadi ketika adonan Nori tersebut dimasukkan kemudian di sweep, sehingga ketebalannya nanti bisa dikontrol sesuai dengan ketebalan yg disusun tadi yakni 0,7 milimeter,” jelas Hadi.

Jadi ketika Nori dikeringkan terang Hadi, ukurannya akan berubah lebih tipis.

“Maka hasilnya akan jauh lebih tipis dari 0,7 mili. Maka dari itu teknologi tepat guna ini diharapkan mampu menghasilkan atau mampu membantu UKM AR-Raihan untuk menghasilkan Nori yang lebih baik” pungkasnya.

Penulis : GKS | YES