IBC, PELALAWAN – Pencemaran udara berbau busuk yang mengganggu pernafasan masyarakat desa Lalang Kabung dan Pangkalan Kerinci, menjadi pekerjaan rumah (PR) serius bagi Pemda Pelalawan.

Kualitas udara yang menyengat hidung, diyakini sangat berpengaruh besar bagi pertumbuhan kesehatan anak-anak Balita maupun orang usia lanjut.

Aroma busuk yang diyakini berasal dari pabrik penghasil Rayon dan Bubur kertas, dinilai sudah mencemari udara.

Koordinator NGO Jikalahari, Made Ali menjelaskan bahwa bau busuk yang tersebar di dua desa di Kabupaten Pelalawan itu sudah melewati batas ambang yang diperbolehkan.

“Bau busuk itu jelas pencemaran udara dan melewati batas ambang yang dibolehkan. Itu juga mempengaruhi kesehatan warga,” kata Made Ali menjawab pertanyaan saat diwawancarai lewat What’sApp, Senin (26/10/2020).

Metode sederhana untuk mengetahui udara tersebut sudah tercemar, seperti kata Made Ali, adalah dari bau busuk yang tercium oleh masyarakat.

“Yang jelas bau busuknya sudah sampai tercium, itu indikator pencemaran udara. LHK punya caranya, bisa hubungi LHK,” jelasnya lagi.

Diketahui bahwa, APR saat ini sedang melakukan pengurusan izin AMDAL di dinas LHK Provinsi Riau. Hal tersebut dibenarkan oleh pihak LHK ketika dikonfirmasi oleh biro Indonesia berita.com melalui telepon pada siang, Senin (26/10/2020).

“Iya pak, AMDAL nya sedang tahap evaluasi,” jawab Makmun Murod dari LHK Provinsi Riau.

Makmun juga mengatakan terkait bau busuk yang mencemari lingkungan tersebut, ia mengatakan pihaknya masih menunggu hasil dari lapangan.

“Iya kita tunggu Timnya sedang bekerja ya,” tambahnya singkat.

Humas Kementerian LHK, Nunu Anugerah menganjurkan agar terkait AMDAL dikomunikasikan terlebih dulu di LHK Provinsi Riau.

Manajement perusahaan ketika dikonfirmasi terkait AMDAL nya, belum memberikan jawaban.

Penulis : Faisal| YES