Oleh : Ustaz Amran Saragih M.A.

Pada tahun Gajah, 12 Rabiul awal Hijriah, sebuah peristiwa sakral telah terjadi di kota Makkah. Saat itu banyak tanda-tanda alam yang tidak biasa, terjadi sebagai perlambang kelahiran “Insan Kamil” itu. Diantara kisahnya banyak termaktub dalam buku An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami Asy-Syafii.

Beberapa waktu setelah wafatnya Rasulullah, sebenarnya sudah ada yang mulai mengidekan peringatan maulid nabi. Hal tersebut sebagai penyemangat bagi kaum muslimin, dengan mengenang kembali perjalanan hidup nabi. Namun yang paling populer adalah Salahuddin Ayyubi yang menjadikan ajang peringatan tersebut sebagai semangat juang buat kaum muslimin saat itu.

Saat ini Islam telah menjadi salah satu agama terbesar di muka bumi. Terlepas pro-kontra hukum memperingati maulid, gaungnya begitu membahana hampir di seluruh dunia, dengan tata-cara yang mungkin berbeda-beda.

Namun hikmah terbesar dari maulid tersebut, terkadang tidak lagi menjadi tujuan utama. Sebab boleh jadi, “zaman ini memang sedang senang dengan baju dan aksesoris sehingga melupakan hal yang pokok yakni isi”.

Sama kita tahu bahwa peran pokok Rasulullah SAW diutus Allah SWT adalah dalam misi penyempurnaan akhlak. Selaku nabi akhir zaman, Muhammad SAW merupakan suri tauladan terbaik bagi umat manusia.

Beliau adalah “Master Chief” kesinambungan maslahat alam semesta dengan senjata pamungkas yang menyatu dalam dirinya bernama; akhlak. Dengan kata lain bahwa; jika akhlak seperti Rasulullah terus berkesinambungan diperankan oleh manusia, maka tidak ada alasan kehancuran buat dunia.

Diantara sekian banyak cerita tentang akhlak Rasulullah SAW. Ada beberapa yang dapat kita jadikan pegangan kehidupan untuk menghadapi situasi zaman ini. Hikmah-hikmah berikut merupakan intisari akhlak seorang muslim yang dengannya, Islam akan semakin megah dalam pandangan dunia.

Mudah senyum dan susah marah.
Mudah memberi dan susah meminta.
Mudah memaafkan dan susah menyakiti.

Ketiga hal di atas, terlihat sangat sederhana. Namun hanya mereka yang mau berjihad melawan dan meredam egonya saja yang akan dapat menjadi makhluk paripurna sedemikian rupa.

Lihatlah betapa sekarang, malah Islam dijadikan ajang untuk marah dengan dalih jihad. Islam dijadikan ajang meminta, bahkan meminta-minta dengan dalih dakwah. Bahkan Islam dijadikan dalih menyakiti yang lain dengan dalih dizalimi atau dikriminalisasi.

Apalah arti sebuah peringatan, jika hanya membesarkan pestanya? Apalah arti sebuah peringatan, jika hanya seperti pameran keramaian? Apalah arti sebuah peringatan, jika hanya dijadikan ajang tontonan pagelaran busana? Hanya satu yang paling penting bagi umat Islam, yakni mampu melihat uswatun hasanah yang ada dalam diri Rasul SAW dan melaksanakannya dalam kehidupan.

Momentum maulid nabi saat ini, sangat tepat kita jadikan peringatan bahwa “bangsa ini sedang membutuhkan pribadi-pribadi yang mampu saling menyayangi tanpa marah, saling memberi tanpa pamrih dan saling memaafkan tanpa menyakiti”.

Semoga Allah melindungi NKRI sebagai negara terbesar jumlah penduduk muslimnya di dunia.

Penulis merupakan Ketua Umum Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI).