IBC, JAKARTA – Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Budiman Sudjatmiko menyoroti secara tiba-tiba dunia membicarakan Laïcité (sekularisme – red) Perancis.

“Tiba-tiba dunia membicarakan Laïcité Prancis bukan Pancasila Indonesia. Padahal saya yakin esensi Pancasila lebih kenyal dan lincah menghadapi dinamika kekinian. Sekali lagi: esensi tanpa sensasi, efek getarnya kurang dan sensasi tanpa esensi, kedalamannya kurang,” cuit Budiman di akun Twitter pribadinya, Selasa (3/11/2020).

Budiman menegaskan saatnya sekarang kita harus mempromosikan nilai-nilai Pancasila ke dunia.

“Dunia juga perlu mengakrabi Pancasila seperti kita (setidaknya saya) mulai mengenal Laīcité. Inilah yang seharusnya jadi sumber proses belajar bersama Indonesia dengan Prancis dan Indonesia dengan dunia,” tegasnya.

Pendiri gerakan inovator 4.0 Indonesia ini menjelaskan di Prancis ada Laïcite yang eksistensial sebagai sifat-sifat Prancis yang dinyatakan dalam Liberté, Egalité, Fraternité (Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan – red) yang esensial sebagai dasar2 dan tujuan Prancis.

“Sementara di Indonesia ada Pancasila yang esensial sebagai dasar-dasar dan tujuan-tujuan Indonesia, dengan Bhinneka Tunggal Ika yang eksistensial sebagai sifat-sifat dasar Indonesia,” jelas Budiman.

Menurut Budiman jika tak ada Laīcité maka Prancis tak akan ada dan jika tak ada Liberté, Egalité, Fraternité maka Prancis tak akan menjadi (apa-apa).

“Juga jika tanpa Pancasila maka Indonesia tak akan menjadi (apa-apa) dan tanpa Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia tak akan ada,” ungkapnya.

Dirinya menuturkan dengan memahami proses bereksistensi dan esensi sebagai Indonesia (atau sebagai Prancis atau apapun juga) akan membuat kita lebih mengenali bangsa-bangsa lain.

“Juga mencegah kita jadi komunitas sempalan (separatis) saat hidup di negara-negara lain,” tuturnya.

Selanjutnya mnatan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini memaparkan Filsuf Jean Paul Sartre pernah mengatakan “Eksistensi mendahului esensi”, jika orang-orang Prancis itu memang Sartreian sejati, maka Laïcité (baca: Prancis yang “sekuler”) harus ada lebih dulu agar kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan terwujud.

“Nah dalam kasus Indonesia, maka Bhinneka Tunggal Ika harus ada terlebih dahulu supaya Pancasila terwujud. Kenapa? Karena jika memakai cara berpikir Sartre tadi maka “eksistensi (Bhinneka Tunggal Ika) mendahului esensi (Pancasila)”,” papar Budiman.

Eksistensi adalah soal bagi2 posisi, sementara esensi adalah soal bagi2 nilai. Esksitensi adalah ttg di kursi mana kamu duduk saat ujian & esensi adalah ttg berapa nilai ujianmu.

Ya kamu tak akan dapat nilai ujian kalau kamu tak dapat kursi utk ikut ujian..

Kemudian mantan aktifis reformasi ini mengungkpkan kalau kata Nahdliyin Sorbonnard “Cartesian” (orang NU yang riset doktoral di Universitas Paris Descartes/Sorbonne) ini, kesalahan Macron cuma 1. Apa itu? Tonton yuk Youtube ini https://t.co/5tbBkihpP9 (namun redaksi tidak dapat membuka channel youtubenya karena sudah dihapus pemiliknya – red).

“Kenapa ya saya kok selalu spontan mikir jika ada anak muda NU yang bisa ndlosor ke akar rumput tapi sekaligus bisa terlibat percakapan-percakapan dunia, kuanggap mereka anak-anak ideologis Gus Dur. Juga jika dia anak Muhammadiyah, kuanggap anak-anak ideologis Buya Syafei Ma’arif?” pungkasnya.

Penulis : DS | YES