IBC, SANANA – Keresahan warga Desa Pohea kembali mencuat perihal Masjid An-Nur yang tidak bisa lagi digunakan.

Warga beralasan karena takut dengan pengerjaan konstruksi yang diduga asal-asalan sehingga dinilai sewaktu-waktu bisa roboh menimpa orang yang sedang melakukan shalat.

Keresahan ini diungkapkan oleh salah satu warga Sukur Fatmona, ketika saat warga melakukan ibadah di dalam masjid, bangunan di lantai dua kerap terlihat goyang

“Hal seperti ini pasti memunculkan rasa ketakutan akan konstruksi bangunan yang tidak kuat sehingga sewaktu-waktu bisa roboh,” ungkapnya.

Dalam penelusuran pewarta IBC dilapangan tepatnya pada tahun 2015, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula, mulai mengambil alih dan mengerjakan pembangunan Mesjid An-Nur, di Desa Pohea.

Kini rumah ibadah itu lebih kokoh dari sebelumnya dari bagunan kecil, telah diganti dengan bangunan semi permanen namun yang lebih besar dari sebelumnya.

Memang terlihat dari luar bangunan nampak kokoh. Padahal bangunan yang diperkirakan telah menelan anggaran sebesar Rp4 Miliar lebih, seharusnya sudah bisa dinikmati warga malah menuai polemik

Dibawah kepemimpinan Bupati Hendrata Teis dan Wakil Bupati, Zulfahri Abdula Duwila, mulai menggodok pengerjaan pembangunan mesjid ini di tahun 2015 hingga terhenti di 2019.

Kini di tahun 2020 proyek pembangunan dihentikan. Masjid An-Nur, mengalami permasalahan seperti yang diresahkan warga, sebab bergetarnya di lantai dua, sehingga mencuat polemik terhadap pembangunan Masjid.

Seharusnya Bupati Hendrata meneruskan Niat Bupati Sebelumnya AHM.

Pemerintah harus belajar pada niat orang-orang tua tempo dulu. Jika mengenang rumah ibadah, Masjid An-Nur yang telah berdiri semenjak tahun 1957.

Dikala itu warga Desa Pohea berbondong-bondong membangun masjid, meski bermodal seadanya, masjid berhasil didirikan dan Mesjid dapat digunakan warga

Dalam perjalannya, karena semakin pesatnya pertumbuhan manusia, maka pada tahun 2015, masyarakat desa Pohea kembali membentuk panitia mesjid An-Nur Desa Pohea yang di ketuai oleh Abdi umagap untuk mendirikan mesjid yang lebih besar dari sebelumnya.

Dikala itu, batu pertama yang diletakan oleh Bupati Ahmad Hidayat Mus dan Wakil Bupati Safi Pauwah Pauwah saat menjabat membawa harapan di hati masyarkat Desa Pohea.

Harapan itu tergambar pada masyarakat setempat. Sukur Fatmona, yang mengatasnamakan pejuang kebenaran mesjid An-Nur Desa Pohea.

Berdiri paling depan untuk memperjuangkan nasib Masjid. Dirinya meminta kepada penegak hukum untuk dapat mengungkap siapa penyebab perkara ini agar di hukum seberat-berat nya.

“Kehawatiran masyarakat desa Pohea persoalan ini harus di selesaikan sehingga ketika mesjid ini digunakan untuk beribadah tidak lagi takut lantai dua roboh dan menindis jamaah yang melakukan ibadah,” cetus Sukur

Sambung dirinya, jika tidak diperjuangkan, maka Masjid An-Nur akan tinggal kenangan.

“Masyarakat harus perjuangkan, jika tidak kita hanya akan dibayangi dengan cerita kesedihan,” ujar dia.

Penulis : Sarif | YES