IBC, JAKARTA – Pemilihan Presiden belum selesai, masih akan recount dibeberapa negara bagian di Amerika Serikat.

Hal ini disampaikan Peneliti Politik Amerika Serikat (AS) Jerry Massie sambungan telepon kepada IBC di Jakarta, Minggu (8/11/2020).

“Masih akan recount dan akan dibawa ke Mahkamah Agung. Recount akan berlangsung di Wisconsin, Georgia, Pennyslvania, Michigan, Nevada Arizona dan North Carolina,” ungkapnya.

Kemaudian Jerry memaparkan di Wisconsin ada 20 suara Trump yang tak masuk begitu pula di Rhode Island.

“Di Michigan penipuan pemilih yakni pembuangan besar-besaran lebih dari 200.000 surat suara untuk Trump diberikan untuk Biden .Semua tiba-tiba dan pembaruan, pejabat menyebutnya sebagai Typo,” paparnya.

Bahkan, Jerry menyatakan pengamat pemilu tak diperkenankan masuk mengikuti penghitungan suara.

“Ada  negara bagian deep state hasil pemilu,” sebutnya.

Jika hitung-hitungan matematika politik, menurut Jerry bisa saja Trump unggul di injury time.

“Soalnya 9 Hakim Agung di Supreme Court (Mahkaham Agung) 6 hakim wakil konservatif atau dari Partai Republik sedangkan hakim liberal (Demokrat) hanya 3. Soalnya tahun 2000 saat George Bush  presiden dari Partai Republik pernah menang gugatan di state Florida saat di gugat lawannya Al Gore,” ungkapnya sambil memberi contoh kasus.

Ketika ditanya berarti kemenangan Biden ditingkat Mahkamah Agung tipis, Jerry menjawab dengan tegas.

“Iya tipis..kecuali tak ada pelanggaran maka bisa. Paling Desember diumumkan presiden terpilih,” jawab Jerry tegas.

Dirinya menjelaskan penghitungan suara pilpres sudah diatur dalam Undang-undang, maksudnya mengapa baru Pukul 02.00 menjelang subuh Presiden Donald Trump menyampaikan “pidato kemenangannya”.

“Memang, Pukul 02.00 Rabu dini hari itu (waktu Washington DC) berarti jam 12.00 malam di California. Detik itulah tanggal 3 November 2020 –yang ditetapkan sebagai hari Pemilu– lewat,” jelas Jerry.

Jadi dengan kata lain, Jerry menyampaikan US President Election it’s over atau sudah selesai.

“Suara yang belum dihitung setelah lewat detik itu tidak boleh dihitung lagi. Pemilu sudah selesai,” ucapnya.

Berdasarkan sumber di Michigan, Jerry mengatakan Tim Kampanye Trump mengajukan gugatan yang berusaha untuk menghentikan pemungutan suara di Michigan pada Rabu, 4 November 2020 lalu.

“Mereka mengklaim bahwa Partai Republik tidak diizinkan untuk mengamati penghitungan “secara bermakna” di beberapa lokasi, tetapi hakim pengadilan negara bagian menolaknya,” katanya.

Di Michigan Pengadilan, Ia menjelaskan tuntutan Hakim Cynthia Stephens membuat keputusan selama sidang pada hari Kamis, Hakim mengatakan akan mengeluarkan putusan tertulis Jum’at, 6 November 2020 kemarin.

“Dia juga mengatakan bahwa terdakwa, Menteri Luar Negeri Jocelyn Benson, adalah orang yang salah untuk dituntut karena dia tidak mengontrol logistik penghitungan suara lokal, bahkan jika dia adalah petugas pemilihan kepala negara bagian. Gugatan tersebut mengklaim bahwa Benson, seorang Demokrat, mengizinkan penghitungan suara yang tidak hadir tanpa tim pengamat bipartisan maupun penantang. Dia dituduh merusak “hak konstitusional semua pemilih Michigan,” jelas Jerry.

Masih kata Jerry, ada hal yang menarik di Pilpres AS dimana petahana menggugat hasil pemilu.

“Di Indonesia, yang menggugat hasil pemilu biasanya penantang, kalau di Amerika malah petahana yang menggugat hasil pemilu, ” katanya lagi.

Seandainya Biden jadi Presiden AS, Jerry menegaskan pertarungan di Pulau Natuna bisa terjadi.

“Bahkan pertarungan di Pulau Natuna bisa jadi kalau Biden jadi presiden karena China akan leluasa lantaran Biden sama China hubungannya kental,” tegasnya.

Lebih lanjut Jerry menuturkan economic policy does not harm Indonesia (kebijakan ekonomi tak merugikan Indonesia). Ia menegaskan Biden juga harus punya konsep jelas terkait hubungan Indonesia dan Amerika.

“Indonesia bisa mendorong dan membujuk agar kerja sama teknologi silicon valley bisa buka di Indonesia kalau perlu membuka pabrik smartphone iPhone, General Motor, sampai mobil ford. Kalau tidak akan didominasi China,” tuturnya.

Jerry menilai hubungan Indonesia dan AS akan biasa-biasa saja karena faktor Biden hanya bermitra dengan China.

“Tapi saya lihat hubunganya biasa-basa saja, lantaran Biden hanya bermitra sama China. Kalau Trump mitra dsgangnya Taiwan, Jepang, Korea Selatan, India, Filipina dan Vietnam. Jadi sebetulnya Biden akan kurang menguntungkan bagi Indonesia,” paparnya.

Ia menjelaskan kerjasama yang dikembangkan China dengan sistem mengambil hasil alam bahkan kolonialisasi ekonomi.

“Kalau China sistemnya mengambil hasil alam kita bahkan kolonialisasi ekonomi. Mereka meminjamkan dana atau save investments and smart investments tapi selain bunganya tinggi 1-2 persen mereka mengirim juga man (orang) sampai materials and tools (alat-alat). Kalau Amerika mereka mengirim hanya man tenaga kerja yang berkualitas,” jelas Jerry lagi.

Terakhir Jerry menyatakan masalah human right juga perlu ditingkatkan.

“Apalagi pada beberapa lalu terjai penembakan seorang pendeta di Papua yang diduga dilakukan oknum TNI,” pungkasnya.