IBC, JAKARTA – Semakin tua usia makin merosot pula daya ingat saya yang sejak semula memang dari sononya sudah rendah.

“Namun saya masih ingat bagaimana Gus Dur pertama kali memperkenalkan Rizal Ramli kepada saya dengan komentar “Ini satu lagi orang gila seperti Mas Jaya dan saya!”,” kata Jaya Suprana mengutip komentar Gus Dur kepada Redaksi IBC melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (8/11/2020).

Pendiri Museum Rekor Indonesia (MURI) ini mengungkapkan kemudian orang gila ini diangkat Gus Dur untuk menjadi Kepala Bulog yang terbukti berhasil menyelenggarakan revolusi mental membenahi kebobrokan Bulog.

“Bukan sekadar sebagai slogan, namun kenyataan pada masa jabatan tidak sampai setahun,” ungkap Jaya.

Jaya menjelaskan kemudian Rizal Ramli diangkat menjadi Menteri Koordinasi Ekonomi dan Menteri Keuangan di dalam jajaran kabinet Presiden Gus Dur.

“Pada masa itu sudah terbukti bahwa doktor ekonomi Universitas Boston ini memang benar-benar gila dalam arti benar-benar positif dan konstruktif dalam jurus politik ekonominya, namun juga gila dalam jurus ngepret siapa saja yang berani melakukan korupsi atau mengkhianati rakyat,” jelasnya.

Menurut dirinya wajar jika sang tukang kepret bukan saja ditakuti namun juga dibenci oleh mereka yang kena kepret!

“Andaikata saya dikepret RR pasti saya juga langsung bergabung ke PTBRR (Paguyuban Takut dan Benci RR),” tutur Jaya.

Wajar, setelah dipercaya Presiden Jokowi untuk menjadi Menteri Koordinator Kemaritiman, Jaya menyatakan sang tukang kepret langsung ditakuti dan dibenci oleh mereka yang merasa terancam akan dikepret. Apalagi mereka yang “sudah” kena kepret!

“RR (Rizal Ramli – red) tidak lama menunaikan tugasnya akibat secara mendadak tanpa alasan yang jelas, RR dilengserkan dari jabatan Menkonya disampaikan oleh Mensesneg mewakili presiden,” tuturnya.

Selanjutnya Jaya menuturkan beredarlah gosip di medsos mau pun medmul (media mulut ke mulut) bahwa Rizal Ramli di-PHK secara sepihak tanpa melalui prosedur ketenagakerjaan akibat terlalu banyak melemparkan kata-kata kasar dan kotor kepada sesama pemangku jabatan kepemerintahan pada masa kepresidenan Jokowi.

“Sebagai sesama cantrik (murid – red) Gus Dur yang sudah saling mengenal selama dua dasawarsa, saya tidak langsung percaya gosip bahwa Rizal Ramli dipecat akibat bicara kasar dan kotor,” tuturnya lagi.

Memang, Jaya menegaskan di samping rasional mas RR juga emosional apabila menyimak sesuatu ihwal atau perilaku mengkhianati bangsa Indonesia yang sangat amat terlalu dicintainya.

“Apabila sedang terhanyut gelombang amarah, kata-kata RR memang keras bahkan tajam potensial melukai perasaan mereka yang memang tipis kulit perasaannya sehingga sensitif seperti Putri Malu,” tegasnya.

Namun sejauh pengetahuan serta pengalaman berteman dengan putra terbaik Indonesia kelahiran Padang ini, Jaya secara pribadi “tidak” pernah mendengar RR bicara kasar dan kotor.

“Saya pribadi belum pernah mendengar kata cacimaki seperti cebong, kampret, kadal gurun, anjing, atau kata tiga huruf yang tidak layak ditulis di sini ke luar dari mulut Rizal Ramli,” tuturnya dengan tegas.

Terakhir Jaya berpendapat menurut keyakinan pribadinya yang tentu saja subyektif sebab memang tidak ada keyakinan yang obyektif kecuali diobyektif-obyektifkan, Rizal Ramli yang sudah dianugrahi gelar Gus Ramli cukup beradab, sehingga mustahil tega mengucapkan kata-kata kasar dan kotor meski amarahnya sedang memuncak.

“Keras dan tajam mungkin, tapi bukan kasar dan kotor,” tandasnya tegas.

Penulis : FA | YES