IBC, PELALAWAN – Masyarakat Desa Kuala Panduk masih menikmati penerangan menggunakan tenaga diesel (PLTD) milik PD. Tuah Sekata Kabupaten Pelalawan, Riau.

Penerangan atau suplay listrik hanya beroperasi dari pukul 18.00 wib hingga 00.00 wib. Kondisi penerangan yang terbatas membuat Desa Kuala Panduk terlihat gelap gulita pada malam harinya, seperti halnya desa pada zaman dulu.

Berdasarkan penulusuran IBC Biro Pelalawan ke Desa Kuala Panduk pada Minggu (22/11/2020) malam, menemukan cerita pahit yang menurut pengakuan warga, bahwa desanya seakan dianak tirikan oleh pemerintah daerah akibat perang politik.

Letak geografis Desa Pulau Muda yang berada lebih jauh dari ibukota kabupaten, sudah lebih dulu menikmati penerangan PLN selama 24 jam. Namun jalur yang melintasi Desa Kuala Panduk masih belum terjamah oleh penerangan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Penerangan di Desa Kuala Panduk menggunakan PLTD milik PD Tuah Sekata, cenderung membebani masyarakat secara cost atau finansial.

Setiap warga dikenai biaya beban sebesar Rp100.000 perbulan secara percuma. Yang artinya baik ada pemakaian ataupun tidak, masyarakat tetap dibebankan membayar biaya tersebut setiap bulannya. Sedangkan biaya per kWh nya, warga dikenai tarif Rp1750/kWh.

Ditengah masa-masa Pilkada Pelalawan, salah satu Paslon menjanjikan penyaluran PLN jika memberikan dukungan terhadapnya. Namun masyarakat mengaku sudah “Kenyang” dengan janji-janji politik oleh penguasa sebelumnya.

“Dia minta menguningkan Panduk, baru PLN masuk ke desa, tapi kami minta masukan dulu PLN sebelum Pemilihan, baru kami dukung,” kata salah satu warga yang namanya enggan disebutkan kepada IBC.

“Ah memang kami bodoh apa, jualan politik seperti itu lagi dibawa kemari. Program pelalawan EMAS, Terang, mana?,” celetuk warga lainnya geram.

Penulis : Faisal | YES