IBC, JAKARTA – Lebih dari lima ratus orang dari penjuru negeri mengirimkan kartu Natal berisi harapan dan motivasi bagi perokok untuk berhenti merokok dalam kampanye #Christmas2Quit demi mewujudkan kawasan tanpa rokok di gereja dan rumah masing-masing

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bekerja sama dengan gerakan #SuaraTanpaRokok hari ini menyelenggarakan konferensi pers terkait kampanye #Christmas2Quit, sebuah kampanye yang mengajak masyarakat untuk berhenti merokok dan menciptakan kawasan tanpa rokok di gereja serta lingkungan sekitar sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan diri terutama di masa pandemi ini.

Kampanye #Christmas2Quit yang berjalan sejak awal Desember ini dilaksanakan sebagian besar secara virtual mengingat pandemi Covid-19 saat ini.

Selain itu, kampanye ini juga dilakukan di lima gereja dari berbagai penjuru Indonesia yang ditandai dengan pembuatan Tree of Hope, pohon Natal yang diisi oleh ratusan kartu Natal bertuliskan kalimat-kalimat menggugah yang bertujuan untuk memberi motivasi untuk keluarga atau orang-orang terdekat agar lebih memperhatikan diri sendiri dan lingkungan dengan cara berhenti merokok.

Lima gereja yang menjadi representasi dari gereja-gereja di seluruh Indonesia ini adalah GPM Ebenhaizer Jemaat Benteng Karang, BNKP Jemaat Gunungsitoli Nias, Bala Keselamatan Makassar, GPdI Bukit Sion Tangerang dan GPIB Petra Bogor. Pengurus dan jemaat setempat, termasuk guru-guru sekolah Minggu dan pemuda-pemudi gereja tersebut terlihat antusias dalam kampanye ini.

“Kami didukung oleh pemuda dan murid-murid Sekolah Minggu dalam proses pembuatan kartu Natal dan Tree of Hope. Ada yang membuatnya di rumah dan ada juga yang melakukannya di gereja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan,” demikian ungkap Sanis, perwakilan dari BNKP GunungSitoli, Nias.

Sementara di ranah digital, masyarakat dapat berpartisipasi dengan menggunakan Instagram filter yang dapat diakses melalui akun @Suara_Tanpa_Rokok untuk kemudian diunggah melalui filter yang dapat diakses melalui akun @Suara_Tanpa_Rokok untuk kemudian diunggah melalui akun Instagram masing-masing.

Sebanyak lebih dari 500 kartu Natal terkumpul hingga saat ini. Masyarakat dapat bergabung dan terus mengirimkan kartu Natal buatan mereka hingga berakhirnya masa kampanye #Christmas2Quit di penghujung tahun 2020.
Kampanye #Christmas2Quit diharapkan dapat mendorong keluarnya surat edaran resmi dari PGI untuk gereja dan jemaat guna mewujudkan kawasan tanpa rokok di gereja dan lingkungan masing-masing.

Salah satu Kartu ucapan Natal kirim masyarakat. Foto : : www.christmas2quit.com

“Tidak hanya di Gereja, kawasan tanpa rokok juga sebaiknya diterapkan mulai dari lingkungan terkecil yaitu rumah kita. Dalam keadaan pandemi ini, merokok menyebabkan gangguan kesehatan pada organ tubuh seperti jantung dan paru-paru yang berakibat meningkatkan risiko yang fatal terutama di masa pandemi ini,” ujar Ketua Umum PGI Pdt Gomar Gultom.

Yessica Patricia dari Biro Pemuda PGI turut menambahkan semoga dengan kampanye ini, kita dapat mendorong gereja dan rumah bebas dari rokok.

“Harapannya, dengan kampanye ini kita dapat mendorong gereja dan rumah bebas dari rokok sehingga dapat melindungi orang lain serta keluarga termasuk anak-anak juga remaja dari paparan asap rokok yang berbahaya dan dapat mengancam masa depan mereka, terlebih dalam masa pandemi COVID-19 ini,” ujar Yessica seraya berharap.

Yosephina Octhalya Lesnussa, perwakilan dari gerakan #SuaraTanpaRokok menyatakan pemuda-pemudi Gereja merupakan garda terdepan yang secara aktif mengkampanyekan, mensosialisasikan dan dengan semangat membuat Tree of Hope beserta ratusan kartu Natal yang sudah dikumpulkan baik secara digital maupun secara fisik.

“#SuaraTanpaRokok selalu mendorong dan membantu teman-teman yang masih kecanduan rokok untuk memulai gaya hidup yang lebih sehat dengan berhenti merokok. Behenti merokok bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri, tetapi juga untuk kebaikan teman dan keluarga kita semua,” papar Yosephina.

Kampanye ini dapat diikuti melalui tagar #Christmas2Quit dan #SuaraTanpaRokok di Instagram, Facebook dan Twitter. Untuk informasi lebih lengkap silahkan kunjungi www.christmas2quit.com.

Perlu diketahui dampak tembakau yang mematikan bagi Indonesia, menurut The Tobacco Atlas, lebih dari 53 juta orang dewasa di Indonesia merokok setiap hari. Proporsi lelaki dewasa, anak lelaki dan anak perempuan yang merokok di Indonesia lebih tinggi dibandingkan rata-rata di negara lain yang setara.

Rokok membunuh lebih dari 225.000 jiwa di Indonesia setiap hari di tahun 2016, dan merupakan 21 persen penyebab kematian pria dewasa – angka yang lebih tinggi dibandingkan negara lain yang setara. Penelitian memperlihatkan bahwa pria Indonesia mulai merokok di usia yang sangat muda.

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Kementerian Kesehatan tahun 2018 memperlihatkan kenaikan prevalensi perokok remaja di Indonesia, berusia antara 10 dan 18 tahun, dari 7,2 persen di tahun 2013 menjadi 9,1 persen di tahun 2018.

Merokok merupakan faktor risiko penyakit tidak menular yang menimbulkan biaya ekonomi bagi negara Indonesia sebesar US$4,5 triliun dari tahun 2012 hingga 2030, menurut The World Economic Forum.

Penulis : DS | YES