IBC, TALIABU – Berdasarkan data dan analisis yang dikaji, Pakar Hukum Tata Negara, Margarito Kamis, menyampaikan keyakinannya terkait perkara sengketa Pilkada di Taliabu dapat merubah keadaan.

Dari sejumlah perkara sengketa Pilkada Taliabu yang disodorkan, Margarito menilai, ada satu kasus krusial yang sangat menantangnya.

“Ada yang sangat menantang dalam kasus itu soal sapi, soal bagi-bagi sapi itu cukup menantang saya diluar satu dua soal lagi. Kalau dulukan ada tipeks-tipeks (dalam sengketa pilkada), kemudian ada C6 yang aneh-aneh, nah sekarang ini yang menarik betul bagi saya itu soal sapi-sapi,” ucapnya saat dihubungi wartawan, Jum’at (29/1/2021) kemarin.

Yang diduga bahwa, soal politisasi hewan sapi pada Pilkada Taliabu 2020 kemarin tersebut, dilakukan oleh paslon petahana, hal tersebut pun diucapkan sebagai dalil dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi, Jum’at 29 Januari kemarin.

Karena itu, ia bersedia untuk menjadi ahli paslon Muhaimin Syarif dan Syafruddin Mohalisi (MS-SM) dalam perkara sengketa pilkada Taliabu, pada persidangan di Mahkamah Konstitusi nanti jika dibutuhkan.

Tapi itu sangat tergantung apakah hakim memandang keahlian saksi atau keterangan ahli itu diperlukan atau tidak. Karena kalau hakimnya sudah menemukan hukum secara terang benderang untuk kasus yang di dalilkan, maka bisa jadi hakim akan berpendapat tidak perlu ahli, dan sebaliknya, jika hakim belum cukup yakin dengan hukum yang mereka bayangkan, barulah hakim memungkinkan ahli hadir.

“Jadi sangat tergantung pada hakim yang memberikan perkara tersebut dengan bukti yang disampaikan ataukah belum, maka nanti dari pemohon untuk mengajukan ahli,” terang Pakar Hukum Tata Negara asal Maluku Utara itu.

Selain itu, untuk kasus dan sengketa pilkada Taliabu tersebut, secara fakta dinilai berindikasi pada TSM (Terstruktur, Sistematis dan Masif).

“Secara keseluruhan melihat ada alasan cukup untuk sampai di titik TSM. Secara keseluruhan ada alasan, ada fakta, yang cukup meyakinkan untuk disimpulkan adanya tindakan kekeliruan ini bersifat ter’organisir dan cukup besar sebaran areanya. Sehingga bisa di kualifikasi sebagai masif, itu keyakinan saya,” ungkap Margirito.

Oleh karena itu, dirinya optimis bahwa, perkara sengketa pilkada di Taliabu 2020 kemarin, dapat merubah keadaan.

“Kalau saya tidak yakin menang saya tidak masuk, itu tipikal saya. Jarang perkara yang saya jadi ahli terus kalah di Mahkamah Konstitusi jarang sekali. Karena itu saya musti yakin, dan keyakinan saya itu saya bangun berdasarkan data. Data disajikan, saya analisis, kalau data dan analisis saya itu meyakinkan saya bahwa ini bisa mengubah keadaan, saya akan ambil. Kalau itu tidak memberikan keyakinan kepada saya, bahwa kesaksian saya itu akan mengubah keadaan, mengubah keadaan dalam arti mengubah keadaan yang menang menjadi kalah atau yang kalah berubah menjadi pemilihan ulang lanjutan saya tidak ambil, kalau yakin baru saya ambil, dan dalam kasus ini saya cukup yakin,” jelas Margarito.

Penulis : HVD | YES