IBC ,SUMSEL – Syaikh Ahmad Rouni Ad Duhaibi Al Jailani keturunan cicit ke-28 Syaikh abdul Qodir Jailani RA Libanon meresmikan pondok pesantren (Ponpes) Aswaja sekaligus gelar tablig akbar.

Kegiatan ini dihadiri Kepala Biro Kesra Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) dan Kepala Kemenag Kota Palembang di halaman Ponpes Aswaja Kecanatan Sematang Borang Palembang, Minggu (28/2/2021).

Kepala Biro Kesra Sumsel Abdul Hamid mengatakan Provinsi Sumsel sangat mendukung atas diresmikannya Ponpes Aswaja karena sesuai dengan visi dan misi gubernur yaitu satu desa/kelurahan satu rumah tahfidz

“Ponpes yang tercatat di Pemprov Sumsel ada 416 ponpes yang sudah lengkap dengan perizinan dan mudah-mudahan dengan banyaknya ponpes masyarakat sumsel maju sesuai dengan visi misi Pemprov Sumsel segera dapat terwujud,” harapnya

Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Palembang H Deni Periansyah mengungkapkan setelah diresminya Pompes Aswaja ini bearti menambah jumlah ponpes di Kota Palembang menjadi 47 yang sudah ada izin dari kantor kementerian agama pusat dan Kemenag Kota Palembang mendukung keberadaan rumah tahfis, majelis taqlim dan majelis zikir yang terkoordinir dan terkontrol dalam bentuk mondok.

“Oleh karena itu kita langsung menindak lanjuti supaya mereka lebih cepat mendirikan ponpes dengan lima pilar ponpes yaitu memiliki santri lebih dari 15 orang, ponpes harus ada asramanya, harus ada masjid/mushola, pimpinan pondok dan pengajian kitab,” ungkap Deni.

Ketua Yayasan Aswaja Ustadz M Soni Suharsono menyampaikan dengan peresmian Ponpes Aswaja ini merupakan wasiat dari orang tua untuk didirikan pesantren dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), Madrasah Aliah (MA) dan Tahfizhul Qur’an dimana didaerah Simatang Borang belum adanya ponpes yang bermukim.

“Dengan adanya pesantren diwilayah ini bermanfat dunia akhirat terutama untuk masyarakat disini berduyun-duyun belajar ngaji, belajar aqidah, belajar fiqih dan khususnya sebagai sarana penangkal radikalisme karena kita dari sunnah waljamaah mendidik santri kita agar jangan menjadi santri yang radikal, artinya benar-benar menjadi santri yang sunnah waljamaah,” tutup Ustadz Soni.

Penulis : Zul | YES