IBC, JAKARTA – Isu Kongres Luar Biasa (KLB) ini bisa membuat persiapan Demokrat untuk 2024 terganjal, pasalnya sejumlah pendiri yang mendeklarasikan KLB ini.

“Saya lihat sebuah kesalahan fatal Partai Demokrat memecat Damrizal, Jhony Marbun dan sejumlah kolega mereka lainnya,” ujar Direktur Political and Publik Policy Studies (P3S) Jerry Massie kepada IBC melalui keterangan tertulisnya, Kamis (4/3/2021).

Jerry menyatakan ini barangkali agak blunder bagi Demokrat.

“Memang ada 99 pendiri Demokrat tapi sejumlah pendiri tak bersama Partai Mercy Biru,” sebutnya.

Selanjutnya Jerry menegaskan gelombang arus penolakan terhadap AHY dan desakan take over atau mengambil alih partai ini mulai mencuat. Ia menambahkan selain kubu mantan Ketua Umum Mardzuki Ali kini nama Hengky Luntungan salah satu pendiri muncul juga mendesak menggelar KLB.

“Memang saya nilai dengan keluarnya sejumlah nama seperti Max Sopacua, Roy Suryo sampai Marzuki Ali partai ini mulai pincang. Belum lagi SBY tak 100 persen membesarkan demokrat usai istri tercinta Ani Yudhoyono wafat,” tegasnya.

Menurut Jerry muncul pernyataan dinasti politik di Partai Demokrat dan isu kudeta pun menyeruak di tengah publik ini bisa terjadi.

“Pasalnya dari awal Partai Demokrat identik atau sarat dengan kudeta. Mulai dari Ketum Pertama Prof Budi, kedua Budi Utomo sampai Anas Urbaningrum dan terakhir AHY,” ungkapnya.

Lebih lanjut Jerrry menjelaskan memang dari pendiri menyebut SBY bukan pendiri dan tidak berkeingat.

“Jadi ini modal kuat untuk menggoyang kepemimpinan AHY. Sebetulnya para pendiri ini perlu dilibatkan agar suasana bisa kondusif. Nah isu “penyelamatan partai” masuk akal lantaran elektabilitas partai Demokrat pada 2009 mencapai 25 persen dan berhasil bertengger di 5 besar,” jelasnya.

Dirinya mengatakan prestasi puncak partai Demokrat terjadi pada pemilu tahun 2009 dengan elektabilitas partai ini yaitu 25,39% suara, perolehan suara yang didapat meningkat 3 kali lipat. Sampai sampai sejumlah partai ingin berkoalisi dengan Partai Demokrat diantaranya PKS, PKB, PPP dan PAN.

“Saat itu Capres SBY tak ada kendala diusung oleh Partai Demokrat menang hanya dengan 1 kali putaran yaitu sebanyak 60,80% suara,” bebernya.

Selain itu, Jerry menyampaikan faktot utama penyebab partai ini anjlok tak lain usai para kadenya tersandung kasus korupsi apalagi ketum mereka Anas Urbaningrum ditangkap KPK.

“Pada pemilu di tahun 2014 Partai Demokrat kehilangan mencolok yang mana perolehan suara mereka turun drastis dari 25,39% suara menjadi 10,19% suara,” ujarnya.

Terlebih lagi, menurut Jerry publik mulai tak percaya dan image negative disematkan kepada Partai Demokrat sebagai Partai terkorup di Indonesia.

“Dan kini pendiri Demokrat ingin ada perubahan,” ujarnya lagi.

Memang kalau pemilihan ketum terbuka dan demokratis, dirinya menyatakan percaya tak akan seperti ini. Kasus PKB, Golkar, PPP dan Hanura menjadi catatan kelam dalam sistem perpolitikan.

“Saya yakin upaya kudeta dan menggoyang akan terus terjadi dengan dipecatnnya 7 kader inti Mercy Biru,” ujar Jerry tegas.

Terakhir Jerry kembali menegaskan wajar kalau pendiri khawatir akan masa depan partai ini pasalnya grafik perolehan suara dan kursi terus terperosok pertama kali mereka berpartisipasi pada pemilihan umum tahun 2004 dan meraih suara sebanyak 7,45% (8.455.225) dari total suara dan mendapatkan kursi sebanyak 57 di DPR. Dengan perolehan tersebut, Partai Demokrat meraih peringkat ke 5 Pemilu Legislatif 2004.

“Pada 2009 mereka menyalib PDIP dan Golkar dengan meraup 148 kursi di DPR. Ini sungguh fantastis. Dan seiring berjalannya waktu partai ini terus merosot,” tandasnya.

Penulis : DS | YES