Logika sederhana saja, dia menyatakan bila terdapat sebuah kebijakan yang merugikan kalangan petani, artinya kebijakan tersebut adalah kebijakan yang anti rakyat banyak.

“Tapi ternyata, bagi kalangan pejabat dan pengusaha pemburu rente, mereka tidak peduli dengan nasib petani. Nasib petani hanya bahan kampanye setiap 5 tahun sekali saja, tidak ada urusannya dengan kebijakan pemerintah sehari-hari,” tutur Gede.

Ekonom muda ini menyatakan apakah memang nasib Bangsa ini, setiap dikasih pemimpin, selalu memikirkan nasib diri sendiri dan kroninya saja, tak pernah pikirkan petani yang nasibnya dari hari ke hari semakin jauh dari sejahtera.

“Ada pemimpin yang janjikan berantas kartel impor pangan, berjanji muliakan petani, ternyata janji itu cuma prank.. Kartel impor pangan tetap awet hingga sekarang, bahkan semakin kokoh,” ujar Gede.

Masih kata Gede bersyukurlah negara-negara tetangga di Asia, seperti Thailand, China, dan Jepang, yang pemimpinnya tidak lupa memuliakan para petani di negaranya. Sehingga para petani di sana makmur, bernartabat, punya tabungan banyak sehingga sanggup liburan ke luar negeri.

“Petani di sini, boro-boro mau nabung untuk bisa liburan ke luar negeri, tidak rugi pasca panen saja sudah sangat bersyukur. Akhirnya karena masa depan kehidupan petani yang suram, sangat sedikit pemuda yang mau masuk ke profesi ini,” katanya lagi.

Lebih lanjut Gede mengungkapkan seburuk-buruknya ingatan kita tentang otoriternya rezim Orde Baru, tapi harus diakui, hanya pada masa itulah kehidupan petani Indonesia paling sejahtera. Harga-harga bahan pangan murah. Nasib petani diperhatikan. Pupuk bersubsidi tersedia cukup. Pabrik-pabrik pupuk dibangun. Produksi padi pun melimpah, kelebihannya bisa diekspor ke negara-negara sahabat yang membutuhkan.

Indonesia pun diakui FAO sebagai negara yang telah sukses berswasembada pangan. Sebenarnya apakah rahasia dari kesuksesan Orde Baru di sektor pertanian? Mengapa Suharto yang tidak pernah bersekolah tinggi mampu secermelang itu?,” ungkapnya sambil menjelaskan.

Selanjutnya >>>