Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini juga menyebutkan padahal sektor pertanian menjadi sektor yang selama tahun 2020 mengalami pertumbuhan 2,59%. Produksi gabah (GKG) tahun 2020 juga sedikit meningkat ke 54,65 juta ton dari produksi tahun sebelumnya 54,6 juta ton (meningkat 45 ribu ton).

Ia menyatakan Bank Indonesia juga mencatat terjadi pertumbuhan kredit UMKM sektor pertanian tahun 2020 yang sangat fantastis sebesar 16,7% (di tengah pertumbuhan kredit perbankan 2020 yang minus 2,41%).

“Jadi meskipun sepanjang tahun 2020 sektor pertanian tumbuh positif, produksi gabah sedikit meningkat, dan pertumbuhan kredit sektor pertanian tumbuh double digit, tetap saja petani tidak menjadi untung” ujar Gede.

Kemudian Gede menegaskan harga beras di Indonesia sangat tidak wajar, besarnya dua kali lipat dari harga beras internasional.

“Bila harga beras dapat turun secara signifikan, anggaplah mendekati harga internasional di Rp7000-8000/kg, maka masyarakat menengah bawah di perkotaan dapat meningkat daya belinya. Sehingga mereka dapat menabung sebulannya Rp200-300 ribu. Nilai tersebut sangat besar artinya bagi kalangan ini, mereka dapat menggunakan untuk membeli komoditi yang dihasilkan pabrik-pabrik, sehingga perekonomian pun dapat bergerak,” tegasnya lagi.

Dengan harga beras yang ketinggian seperti sekarang, menurutnya yang diuntungkan hanya segelintir pedagang kaya saja.

“Para pedagang ini sudah sangat sejahtera, kita perkaya mereka pun, uangnya akan mereka belikan aset di luar negeri atau spekulasi. Tidak berfaedah bagi perekonomian riil,” ketusnya.

Kemudian Gede menyampaikan cara satu-satunya untuk menurunkan harga beras secara signifikan adalah dengan menerapkan sistem tarif dalam impor beras. Sistem kuota yang selama ini berjalan harus ditinggalkan.

Selanjutnya >>>