“Ke depannya, siapapun perusahaannya apakah dari dalam dan luar negeri dapat melakukan impor beras, mereka hanya tinggal membayar sejumlah tarif untuk Negara Indonesia. Dengan menerapkan sistem tarif dalam impor beras, tidak ada lagi peluang bagi para pencari rente untuk bertahan. Tidak akan ada lagi cerita, pejabat ngotot impor beras untuk mencari rente triliunan rupiah demi modal politik atau menumpuk kekayaan pribadi,” tandanya.

Membangun Food Estate di Sulawesi Tenggara dan Sumatera Selatan

Mimpi untuk mencapai swasembada pangan tetap tidak boleh hilang dari benak kita semua. Impor pangan perlahan harus sudah mulai dikurangi.

“Kita adalah Bangsa yang diberkati karena sinar matahari datang sepanjang tahun, curah hujan yang tinggi, dan tenaga kerja yang melimpah. Alam raya sudah sangat mendukung untuk diwujudkannya swasembada pangan di Indonesia.
Dengan langkah-langkah yang telah disampaikan sebelumnya, produksi pupuk akan meningkat dan para petani sudah mulai membaik nasibnya. Yang belum tinggal nanti mau dibangun di mana lahannya,” ujar Gede

Terakhir Gede menyatakan ada wilayah-wilayah di Indonesia yang sangat ideal untuk dijadikan lumbung pangan ke depannya, yaitu di Sulawesi Tenggara dan Sumatera Selatan. Tanahnya subur, luas menghampar dan counturnya datar sehingga mudah dilalui traktor. Selain itu kedua daerah ini juga kaya dengan air, karena dilalui banyak sungai, sehingga mudah untuk dibangun saluran irigasi.

“Bila dikerjakan dengan serius, memaksimalkan seluruh potensi terbaik yang dimiliki Bangsa, melibatkan pemikiran-pemikiran unggul, bukan tidak mungkin dalam kurang dari 5 tahun mimpi
swasembada pangan akan terwujud,” pungkasnya.

Penulis : DS | YES