IBC, JAKARTA – Kementerian Riset dan Teknologi resmi dilebur dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Peleburan tersebut diresmikan melalui rapat peripurna DPR RI, pada Jumat 9 April 2021 yang lalu.

Menyikapi hal itu, Ketua Umum Rembuk Nasional Aktivis (RNA) 1998, Sayed Junaidi Rizaldi mengaku terkejut dengan adanya penggabungan Kementerian tersebut. Baginya hal itu terkesan dipaksakan. Sebab kata Sayed, kurang pantas di tengah negara sedang menghadapi wabah Pandemi Covid-19, vaksinasi dan pelarangan libur mudik lebaran.

“Wakil Ketua DPR RI Sufi Dasco Ahmad menerangkan, keputusan pemberian persetujuan terhadap rencana pemerintah menggabungkan Kemenristek ke Kemendikbud dan membentuk Kementerian Investasi diberikan setelah pihaknya menerima Surat Presiden Nomor R-14/Pres/03/2021 perihal pertimbangan pengubahan kementerian,” ujar Sayed dalam rilisnya yang diterima redaksi, kemarin, Sabtu (10/4/2021).

Baca Juga : Enam Tahun Jokowi, SJR: Jokowi Masuk Nama Pemimpin Muslim Paling Berpengaruh

Oleh karena itu kata Sayed, jika benar surat tersebut ada, maka hal itu memang hak presiden, akan tetapi kata Sayed yang anehnya, siapa jadi Menteri yang diusul adalah Nadiem Makarim, hal itu seperti ada hidden agenda.

“Memang harusnya kemendikbud itu ngurusin sekolah dasar dan menengah, sedangkan pendidikan tinggi memang sudah senyawa dengan riset dan penelitian, di luar negeri kita kuliah bukan tatap muka lagi, tapi sudah by research. Ya… si Nadiem lebih tahulah, kan.. dia lulusan luar negeri,” kata yang karib disapa Pak Cik ini.

Selain itu Sayed juga menyampaikan pandangannya terkait nasib Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro. Menurutnya Bambang merupakan sosok yang profesional dan pekerja keras.

“Kita tahulah rekam jejaknya, jangan sampai orang yang seperti ini dipencundangi oleh sengkuni-sengkuni yang memakai baju luarnya merah putih. Jika penggabungan ini memang kebutuhan, tentunya pak Bambang menterinya,” imbuh Sayed yang juga Dewan Pembina Forum Bhinneka Indonesia (Forbin) ini.

Penulis : FA|YES