IBC, JAKARTA – Tak mudah untuk menjadi agen Intelijen, paling tidak kemampuan dan kecerdasan berpikir di atas rata-rata orang biasa. Pada pra kemerdekaan Indonesia tepatnya tahun 1944 anggota CIA didaratkan di pulau Jawa oleh kapal selam bersandi operasi bernama Ripley I.

Agen tersebut bernama J.F. Mailuku dengan kata sandi ‘Humpy’ yang lahir di Ambarawa, Jawa Tengah pada tahun 1917. Mailuku belajar di sekolah teknik dan menjadi kadet Angkatan Udara di Angkatan bersenjata kolonial Belanda. Ia ikut dievakuasi ke Australia sebelum Belanda menyerah kepada Jepang tahun 1942.

Mailuku dilatih oleh seorang Kapten Robert A. Koke yang pernah tinggal di Bali sejak tahun 1936 hingga 1942. Koke kemudian menjadi Kepala Stasiun SSU di Jakarta dari 2 Desember 1945 sampai Maret 1946. SSU sebelumnya bernama Office Of Strategic Services (OSS), cikal bakal Central Itelligence Agency (CIA), tulis Hendri F. Isnaeni dalam bukunya berjudul ‘Operasi Rahasia CIA di Indonesia’.

Tugas Mailuku untuk melakukan pengintaian di wilayah Selat Sunda dan Sumatra. Dalam tugas-tugasnya tersebut, ia berhasil mengumpulkan informasi intelijen militer dan politik di Jawa. Meskipun ia sempat ditahan oleh Pasukan Paramiliter yang disponsori Jepang.

Selain itu, operasi intelijen tersebut juga memiliki tujuan utama, pertama membantu menyelamatkan tawanan perang Amerika Serikat dari kamp-kamp Jepang. Kedua, tujuan jangka panjang, yakni membangun stasiun lapangan untuk kegiatan spionase di Indonesia.

Pengintaiannya sebagai Agen CIA berhasil memberikan informasi yang sangat berharga, salahsatunya rakyat Indonesia mayoritas ingin merdeka dari tangan penjajah Belanda. Namun sejago-jagonya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Mailuku terbongkar penyamarannya sebagai mata-mata yang sebelumnya ia ingin melarikan diri ke Singapura, namun tak berhasil.

Masih menurut buku Hendri F Isnaeni, halaman 13, bahwa Mailuku dan soerang kenalan yang dilaporkan bekerja untuk Intelijen Belanda pergi ke pertemuan nasionalis Indonesia, tetapi ia tidak pernah kembali. Menurut sebuah laporan, kedua mata-mata itu terakhir melihat mengendarai mobil yang mengibarkan bendera merah putih.

“Di setiap sisi mereka ada orang lain, mungkin penjaga,” kata sumber SSU yang bernama sandi Penny. Karena tidak ada kabar dari Mailuku atau tuntutan tebusan dari para penculiknya, Penny yakin Mailuku dieksekusi karena berhubungan dengan agen Belanda.

Penulis : AS|YES