IBC, JAKARTA – Menyebarnya paham Komunisme di Asia Tenggara membuat Amerika Serikat tak berdiam diri, hal ini terbukti ketika pesawat yang dipiloti oleh seorang agen CIA bernama Allen Lawrence Pope tertembak oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) P-15 dan senjata anti pesawat dari kapal laut Indonesia saat membawa pasukan hendak menyerang Permesta.

Alhasil, Pope dan seorang operator radio ditangkap, pada 18 Mei 1958. Dari penangkapan Pope tersebut terbukti ia banyak membawa dokumen rahasia yang terungkap berkaitan dengan Amerika Serikat–CIA. Di antaranya, membawa sekitar 30 dokumen, termasuk log penerbangan, buku harian, kartu identitas CAT (Lihat Paragraf Berikutnya), dan surat-surat lainnya.

Dalam buku yang ditulis Hendri F Isnaeni halaman 99, bahwa Taiwan merupakan jalur utama Amerika untuk menyalurkan peralatan perang kepada para pemberontak di Sumatra dan Sulawesi.

Sebelumnya, pada 12 Mei 1958, Letnan Kolonel Sukendro, Kepala Intelijen Angkatan Darat, menunjukkan kepada para wartawan bukti-bukti Pesawat DC-4 yang menjatuhkan persenjataan mendarat di Manado, Sulawesi Utara. Pemerintah pusat mengetahui nama dan nomor pesawat itu. Foto-foto pesawat yang mengedrop senjata tersebut dipamerkan di Departemen Penerangan.

Baca Juga : ‘Agen CIA’ Pra Kemerdekaan Di Eksekusi Mati, Ternyata Orang Indonesia

“Dia juga menuduh, dengan tepat, para pemberontak telah membeli sebuah pesawat DC-4, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa CIA-lah pemilik CAT (Civil Air Transport) yang bermarkas di Taiwan yang didanai oleh CIA.

Lantas bagaimana peran Sumitro Djojohadikusumo, masih menurut buku berjudul ‘Operasi Rahasia CIA di Indonesia’, (Hendri F. Isnaeni) pesawat-pesawat tersebut dijual dengan harga murah, yang sangat mungkin diatur oleh Sumitro Djojohadikusumo.

Selain mengedrop senjata, pilot-pilot CAT yang digaji oleh CIA tersebut juga menerbangkan pesawat Angkatan Udara Permesta, yaitu AUREV (Angkatan Udara Revolusioner). Di antaranya William H. Beale dan Allen Lawrence Pope yang menerbangkan pesawat Douglas B-26 Invaders.

Selain menyerang angkatan bersenjata Indonesia, Beale juga menyerang kapal-kapal dagang asing agar menjauhi perairan Indonesia, dengan begitu ekonomi Indonesia dapat dilemahkan dan merusak pemerintahan Presiden Soekarno.

Demikian pula mereka menyerang pangakalan minyak Royal Dutch Sheel di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan menenggelamkan kapal tanker Inggris MV San Flaviano.

Tujuan misi tersebut, yakni mengdrop senjata untuk para pemberontak di Asia Tenggara khususnya PRRI/Permesta, menghancurkan kapal-kapal Angkatan Laut Republik Indonesia, kapal-kapal niaga, lapangan-lapangan terbang dan kota-kota pelabuhan disertai tenggelamnya sejumlah kapal dan hancurnya pesawat terbang. Hal ini terungkap saat Mahkamah Militer mengungkap yang dilakukan Pope, setidaknya ada 12 misi pengeboman.

Termasuk serangan atas Ambon yang menyebabkan ia tertembak jatuh saat pengeboman kelima yang dilakukan olehnya, atas kota itu dan wilayah disekelilingnya.

Penulis : AS|YES