IBC, TALIABU – Sebanyak 2 (dua) orang nelayan, Mejeng dan Husain menjadi korban kecelakaan laut.

Ada pun kronologisnya saat itu, dua bulan lalu, Senin (12/4/2021) malam, keduanya yang hendak melakukan aktivitas pancing ikan di laut menggunakan body fiber (perahu mesin – red) dengan dilengkapi alat penerang berupa senter, lampu kode dan lampu sorot yang disambung melalui 2 accu (aki).

Tidak lama kemudian, KM Sabuk Nusantara 78 langsung menabrak keduanya, padahal korban sudah memberi kode dengan sejumlah lampu milik mereka.

“Kita melihatnya dan telah memberikan lampu kode berulang-ulang. Namun, tidak ada balasan, sementara kami memancing Ikan Bobara di rep dengan menggunakan lampu,” kata Mejeng, menceritakan awal kejadian yang dialaminya, Jum’at (4/6/2021).

Seketika waktu itu, keduanya tidak dapat menghindar, karena posisi jalur kapal tidak berada di area tersebut, dan saat itu juga posisi korban dalam keadaan berlabuh.

“Jadi saat itu, kami berlabuh untuk memancing, dan kami juga telah memberikan kode, tetapi kapal tetap melaju dipinggiran rep dan langsung menabrak kami dengan bagian samping, tepatnya di bagian jangkar. Dan rekan saya Husain sempat menahan agar tidak ditabrak tetapi tidak mampu, akhirnya kami berdua langsung melompat dengan berbekal satu buah senter yang masih berada di kepala,” ujarnya.

Setelah melompat ke laut, body fiber (perahu mesin) yang ditumpangi keduanya tenggelam bersama mesin perahu akibat ditabrak kapal.

Sambil berenang di laut menggunakan box ikan milik mereka, ada kode balik dari arah belakang kapal, namun tidak tidak diberi pertolongan.

“Dan kami berenang mengambil boks untuk tempat bertahan dari pukul 4 (subuh), sampai pukul 11 siang,” lanjut Mejeng.

Menjelang siang, kedua korban tersebut ditemukan oleh para nelayan asal Desa Bokang, Sulteng.

Atas insiden itu, keduanya langsung melaporkan ke Polsek dan Syahbandar, namun kini belum ada solusinya.

“Awal kejadian telah dilaporkan dan kami juga sudah dua kali melaporkan di Polsek dan Sahabandar, tetapi bulam ada langkahnya. saya hanya ingin pihak kapal menganti bodi dan mesin saja,” keluh nelayan asal Taliabu itu.

Tak hanya itu, diakui korban bahwa, musibah yang dialami keduanya sempat dimediasi sebanyak 3 kali.

Mediasi awal, sejak (12/4/2021), korban dipertemukan dengan kapten kapal dan perwiranya.

Pihak kapal mengakui, waktu kejadian itu, radar milik kapal bergetar, saat melintasi perairan rep saliri, antara Pulau Taliabu dan Pulau Bokang. Namun, kapal terus melaju ke arah Pelabuhan tamping, Pualu Taliabu, Maluku Utara.

Meski diakui, pihak KM Sabuk Nusantara 78 dibawa naungan PT Pelni, belum melakukan ganti rugi kepada korban.

Pasalnya, kedua korban kehilangan pekerjaan sebagai nelayan. Sementara dalam mediasi, kapten KM Sabuk Nusantara 78 meminta korban untuk menyurat langsung ke PT Pelni, untuk mengganti kerugian korban.

Penulis : HVD | YES