IBC, JAKARTA – Kasus Corona di Jawa Tengah (Jateng) sedang edan-edannya. Kasus kematian melonjak, kasus baru terus naik. Di saat yang sama, masyarakatnya juga banyak yang ogah memakai masker.

Mendapati kondisi ini, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo tidak mau nyalahkan orang lain. Dia justru memilih menjelek-jelekkan dirinya sendiri.

Jumlah kumulatif kematian akibat Corona di Jateng selama lima hari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat melonjak 98,2 persen. Nyaris dua kali lipat dari jumlah kematian di lima hari sebelum PPKM Darurat.

Pada periode 28 Juni hingga 2 Juli, Jateng mencatat jumlah kematian Corona sebanyak 595 kasus. Sedangkan, dalam kurun waktu 3-7 Juli, penambahan kasus kematian naik menjadi 1.167 kasus.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, Kamis (8/7), Jateng merupakan provinsi yang paling banyak penambahan kasus kematiannya dari hari sebelumnya, yaitu 229 orang.

Kasus positif juga meningkat jika dibandingkan antara lima hari sebelum PPKM Darurat dengan lima hari setelahnya. Pada periode 28 Juni hingga 2 Juli, penambahan kasus baru mencapai 12.392. Sedangkan pada periode 3-7 Juli, naik menjadi 17.497 kasus.

Selain itu, tingkat kepatuhan masyarakat Jateng untuk memakai masker juga menjadi masalah. Catatan Satgas Covid-19, 186 kelurahan di Jateng memiliki tingkat kepatuhan memakai masker di bawah 60 persen.

Dengan jumlah ini, Jateng berada di urutan keempat yang paling tak patuh pakai masker, di bawah Aceh, Jawa Barat (Jabar), dan Jawa Timur (Jatim).

Mengenai vaksinasi, Jateng juga masih punya PR besar. Jateng memiliki tingkat vaksinasi lansia terendah kedua, setelah Jabar.

Melihat fakta tersebut, Ganjar ogah ngeles. Politisi yang disebut-sebut sebagai kandidat capres 2024 ini, mengaku salah. Dia juga mengaku tidak pintar.

“Yang jelas sih, kalau di Jateng, gubernurnya nggak pinter kok sebenarnya. Dia nggak pinter, dia nggak bisa ngerespons. Karena buktinya (Corona) naik terus, gitu,” ucap Ganjar, di Webinar “Strategi Komunikasi Presiden dan Kepala Daerah dalam Penanganan Pandemi Covid-19”, Jum’at (9/7/2021) kemarin.

Ganjar kemudian menjelaskan klaster warga terkait pemahaman terhadap Corona. Klaster pertama, masih banyak warga yang tak percaya soal virus asal China itu.

“Kalau kita mau buat clustering, masih ada yang paling akut nih ya, paling akut nih, nggak percaya sama Corona. Itu paling akut tuh,” bebernya.

Klaster kedua, ada warga yang masih bertanya soal keberadaan Corona. Pada klaster ini, warga diberi ruang untuk bertanya soal Corona. “Terus yang sedang-sedang, masih mencari antara iya dan tidak, dia bertanya,” ucapnya.

Warga yang masih mempertanyakan Corona ini, tambah Ganjar, perlu dilayani. Untuk mengatasi hal ini, mengajak para relawan mengingatkan warga di lapangan.

Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander K Ginting mengamini problem Ganjar. Dia menerangkan, beberapa warga di Jateng memang kurang memahami konsep kontak erat.

“Misalnya, ketika salah seorang warga kontak dengan pasien Corona selama sepekan, mereka tidak melakukan isolasi mandiri dan cenderung kurang waspada. Di Jateng, mereka kurang mengenali gejala bahwa mereka Covid-19,” terang Alex, saat dihubungi, kemarin.

Soal fasilitas kesehatan (faskes), Alex menerangkan, di Jateng tidak ada masalah. Seluruh daerahnya telah mengikuti aturan pemerintah di masa-masa lonjakan kasus Corona.

“Kalau faskes itu sudah siap. Hanya saja mereka (masyarakat) datangnya dalam kondisi berat,” imbuhnya.

Direktur Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie menilai, seharusnya Ganjar tidak menyalahkan diri sendiri atas kondisi Corona di Jateng. Dia melihat, pernyataan Ganjar itu menunjukkan komunikasi sosial yang buruk, sekalipun dampaknya akan ada pembelaan publik.

“Sebetulnya tak perlu menyalahkan diri sendiri. Yang penting new strategy. Lantaran ini varian baru. Yang harus dilakukan, Gubernur meminta pendapat para pakar yang expert di bidang ini,” tutur Jerry, kepada IBC, Sabtu (10/7/2021).

Penulis : DS | YES