IBC, TALIABU – Kejaksaan Negeri (Kejari) Taliabu, Maluku Utara, mengumumkan terdapat tindak pidana pencucian uang (TPPU) atau money laundering, pada pengembangan dugaan kasus yang berasal dari proyek Puskesmas Sahu-Tikong dan pengadaan obat-obatan.

Parahnya dari kasus ini adalah, dua proyek berbeda dengan pelaksana sama, sejak tahun 2016 silam. Sehingga menjadi prioritas penanganan perkara oleh pihak Kejari Taliabu.

Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Taliabu, Agustinus Herimulyanto, dalam jumpa pers, Kamis (22/7/2021) malam.

Agustinus menyampaikan, berdasarkan perhitungan oleh BPKP Malut, terdapat temuan sebesar Rp1 milyar lebih pada kasus proyek Sahu-Tikong,

“Namun, ada kemungkinan nanti tidak sama hasil temuan BPKP dan penyidik. Karena tujuannya beda dengan penyidikan, kalau BPKP itu pemeriksaan laporan terkait kerugian keuangan negara,” kata Agustinus dalam press release.

Untuk kasus ini, Kejari Taliabu mendikte adanya temuan sebesar Rp1,98 milyar dari anggaran Rp3,4 milyar.

Kasus Pengadaan Obat-obatan

Sementara itu, Kejari Taliabu juga berhasil meningkatkan level untuk kasus pengadaan obat-obatan dari penyelidikan ke penyidikan, tertanggal 21 Juli 2021.

Kasus pengadaan obat-obatan ini, dengan temuan sebesar Rp1,3 milyar dari nilai anggaran kontrak sejumlah Rp4,9 milyar.

Tak hanya itu, kejari juga menemukan adanya keterlambatan pengelolaan obat-obatan berjumlah Rp259 juta.

Berdasarkan informasi dari BPKAD Taliabu, telah adanya pengembalian pengadaan obat-obatan sebanyak 2 kali, tertanggal 21 Juni 2021.

“Pengembalian yang pertama itu Rp500juta dan Rp200juta sehingga totalnya sebesar Rp700juta,” ujar pucuk pimpinan Kejari Taliabu itu.

Efek Positif Penanganan 2 Perkara tersebut

Kajari Taliabu, Agustinus menyampaikan, ada efek positif dari penanganan perkara yang dimaksud. Faktanya, pihak terkait selama Juni 2021, tercatat melakukan pengembalian 2 kali untuk kasus dugaan tindak pidana korupsi obat-obatan.

Hal tersebut merupakan manfaat dari proses hukum yang berjalan selama tahap penyelidikan dan penyidikan oleh pihak Kajari Taliabu.

Disamping menuntut pertanggungjawaban pidana, Kejari juga berupa mendapatkan pengambilan aset (Asset Recovery). Meski belum ada penetapan tersangka dari kasus ini, namun Kejari telah membidik 3 inisial nama yang terlibat, diantaranya ASD, MJA dan RUB.

Tentunya, eksistensi Kejari selama 1 tahun lebih berkiprah di Pulau Taliabu, telah mengungkapkan 2 kasus yakni temuan pada proyek Puskesmas Sahu-Tikong dan kasus pengadaan obat-obatan, dengan menggunakan salah satu perusahaan yakni PT. WRK.

Tontom Kompetensi pers Kajari Taliabu di link Cahannel Youtube di bawah ini:

Penulis : HVD | YES