IBC, JAKARTA – Pernah kah kita perhatian dan peduli terhadap iklan rokok yang berpotensi mengakibatkan serangan jantung, lalu mengapa junk food atau fast food seolah luput dari peringatan tersebut, sementara junk food atau fast food tersebut juga bagian dari pemicu obesitas dan berbagai hal yang dapat mendatangkan penyakit didalamnya, bahkan sama berbahayanya.

“Mengingat kematian tertinggi di dunia obesitas adalah jantung, dan junk food bagian dari hal pemicu obesitas tersebut,” ujar Wakil Sekjen Gerakan Relawan Indonesia (GRI – organisasi Relawan Joko Widodo) Johnny Kurniawan kepada IBC melalji keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (29/7/2021).

Johnny mengatakan mengapa juga pemerintah menganjurkan pengobatan maupun pencegahan Covid 19 hanya berfokus kepada lahiriah-nya saja dengan istilah 3 M, 5 M dan seterusnya, apakah berpuasa maupun suasana pengobatan dan pencegahan melalui kerohanian juga tak penting digalakan.

“Bila kita membahas lahiriah, maka sesungguhnya tidak mesti berfokus kepada 5 M saja plus bermasker double, mengapa makanan sehat, rendah gula, rendah kalori dan bermanfaat bagi tubuh serta dapat memiliki manfaat yang lebih baik seolah menjadi luput dalam sosialisasi kepada masyarakat bahkan bansos sembako yang pernah dibagikan juga sebagian besar bukanlah makanan yang sehat bagi tubuh,” katanya.

Sementara itu, Pendiri Komunitas GAPPESINDO (Gabungan Pengusaha dan Petani Singkong Indonesia) ini juga menyampaikan kita perhatikan dapur umum terutama yang dibuat oleh salah satu kementerian pun bila kita amati saat wajan masak disiapkan ternyata ada minyak goreng, dan pastinya ada masakan berjenis gorengan yang akan dibuat.

“Pernahkah dikaji bahwa dapur umum dengan makanan berjenis gorengan itu justru bukan untuk menyehatkan tubuh, melainkan sama saja tubuh seseorang mungkin tanpa kita pernah sadari dimasukan jenis masakan yang berminyak dan apakah ini akan membantu menjadikan tubuh sehat bergizi,” ujar Johnny.

Tidakkah kita perhatikan, Johnny menuturkan saat keluarga terdekat kita, sahabat dan seterusnya satu per satu pergi meninggalkan kita untuk selamanya.

“Tahun lalu saya sempat mengkritisi terkait bansos sembako lebih banyak makanan yang tdiak sehatnya yang kalau dikaji sedikit yang berhubungan dengan hal yang dapat bermanfaat dalam tubuh,” tuturnya.

Selanjutnya Johnny menjelaskan vitamin menjadi poin penting ketika dirinya mengkritisi dalam menjaga masyarakat memiliki asupan vitamin ke dalam tubuh, baru 1 tahun kemudian tepat nya di bulan July Bapak Presiden mengumumkan vitamin tersebut.

“Mengapa pula vitamin itu hanya diberikan terhadap yang bergejala, kenapa juga tak diberikan kepada seluruh masyarakat dan tidak dalam bentuk uang tunai lagi,” jelasnya.

Selain itu, menurut Johnny Wakil Presiden (KH Ma’ruf Amin – red) itu pun seorang Kyai, besar harapan kita bahwa Beliau dapat mendidik umat dari sisi kerohanian sebagai salah satu upaya umat dalam menghadapi dan berperang dengan virus Covid 19 ini sebagai bagian dari pengamalan Pancasila Sila Pertama.

“Pencegahan lahir dan bathin kerohanian saya pikir menjadi sesuatu yang harus seimbang dan harus terus digalakkan oleh pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah, karena hanya Tuhan Yang Maha Kuasa lah pemilik dan penggenggam seluruh nyawa manusia sampai akhir jaman. Semoga hal – hal perbaikan yang positif tetap terus ditumbuhkembangkan di tengah – tengah kehidupan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

Di akhir keterangannya Johnny mengucapkan salam sehat, dan tetap patuhi protokol kesehatan sebagai langkah terbaik kita dalam mengurangi penyebaran pendemi Covid 19 di tengah masyarakat.

Penulis : DS | YES