IBC, JAKARTA – Satu hari, Wigi datang ke kampusku Jalan Sutomo Medan. Saat itu aku sàma Udin Rantau sedang kuliah di kelas, aku lupa mata kuliah apa dan memang tak penting juga diingat, saat itu kami juga sedang tak fokus.

Pikiran mengawang keluar, ditambah lagi si Wigi sudah melambaikan tangan di depan pintu sambil kasih kode untuk segera keluar kelas. Udin pun kulihat sudah melirik ke arah pintu dan kasih kode ke aku untuk jumpai si Wigi.

“Permisi pak, saya ijin ke kamar kecil,” kata aku sambil ijin ke Dosen yang berdiri di depan kelas. Mungkin dia heran juga kuliah baru mulai 5 menit kok udah buang air kecil pula kawan ini.

Segera kujumpai Wigi dan kutarik dia duduk di bawah pohon Akasia rimbun dan rindang di depan lokalku.

“Pakcik ini kacau kali pun, kan ku bilang datangnya jam 10 pagi, abis awak (saya- red) kuliah. kok cepat kali datangnya,” aku merepet di depan Wigi.

“Alah banyak kali cerita uwak, gak usah awak datang pun pakcik pasti punya rencana mau keluar juga,” kata Wigi sambil ketawa. Memang betul apa dibilang si Wigi, awak memang tak konsen kuliah, lebih bahagia cakap-cakap di kantin atau di bawah pohon.

“Gini per, aku tadi malam dapat telpon dari Jakarta. Situasi politik nasional memanas. Sentimen anti Soeharto sudah meluas, aksi aksi sudah mulai marak,” Wigi menjelaskan dengan antusias mirip pengamat politik papan atas.

Aku jadi lupa tadi permisi sebentar dari ruang kelas, gara gara cerita si Wigi ini, jadi semangat awak, tambah tak fokus kuliah. “Trus kek mana ceritanya? lanjutlah wak,” ujarku penuh keinginan menyimak.

Melihat aku penasaran, Wigi pun jadi semangar dan melanjutkan ceritanya “Saat ini kawan kawan pro demokrasi di Jakarta sedang bikin koalisi dengan PDI Pro Mega dan sudah meluas ke berbagai daerah khususnya di Jawa,”

“Berarti kita harus bangun dan perluas front dengan PDI Pro Mega di Medan kalau gitu cuy,” aku langsung potong cakap si Wigi sebelum dia selesai menjelaskan.

Selnajutnya >>>