IBC, JAKARTA – Yustinus Prastowo menanggapi postingan di akun Twitter mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu.

Dalam postingannya Said Didu mencuit “Masih adakah harapan dengan gambaran seperti ini:

  1. Perkiraan pendapatan negara 2022 hanya sekitar Rp 1.800 trilyun.
  2. Pengeluarah terikat (bayar bunga utang, gaji, dan transfer ke daerah) sekitar Rp. 1.900 – 2.000 trilyun.
    Kira-kira apa jalan keluarnya ?”

“Kondisi pandemi masih provokasi terus. Faktanya 1,5 tahun pandemi APBN tetap dikelola dengan baik dan dijaga akuntabilitasnya. Ini berkat sinergi banyak pihak: Pemerintah Pusat, Pemda, DPR, BPK, APH, asosiasi usaha, masyarakat sipil, dan lain-lain. Rambu-rambu ada: defisit kembali 3% di 2023,” cuit Yustinus menjawab cuitan Said Didu di akun pribadinya, Sabtu (28/8/2021).

Yustinus menyatakan jika membandingkan dengan sebelum kondisi pandemi kalau mau fair.

“Kalau mau fair membandingkan ya dengan kondisi sblm pandemi, lalu langkah extraordinary apa yang harus diambil selama pandemi. Cara berpikir normal untuk situasi luar biasa ya jadinya misleading terus. Atau memang sengaja karena tak punya amunisi lain yang lebih bermutu?,” ungkapnya.

Terakhir Yustinus menyatakan saat semua bersinerfi, Muhammad Said Dudu malah menebar provokasi bukannya mengajak publik kritis berpijak pada analisis yang fair dan obyektif.

“Oh ya, ternasuk dukungan Bank Indonesia, OJK dll juga sangat kuat. Sayang sekali, saat semua bersinergi, Bapak ini malah menebar provokasi, bukannya mengajak publik kritis berpijak pada analisis yang fair dan objektif. Silakan kritik, itu baik, tapi mbok ya jangan gitu-gitu amat 😅 (emoji tertawa – red),” tutupnya.

Penulis : DS | YES