IBC, JAKARTA – Perlahan seorang lelaki muda dengan jaket kulit hitam turun dari mobil, dan berjalan menghampiri kedai depan rumah Dedi. Ciut juga nyaliku ngelihatnya wak, panik, lutut lemas, detak jantung berhenti. Gawat! Akhirnya, sampai di sini saja, pikirku. Bergegas kubangunkan kawan-kawan dari tidur lelap mereka.

Kimbek kau lah per, pucat awak kau bikin, cuma beli rokok pun dia rupanya,” kata Udin yang napasnya tersengal saat kubangunkan dan beri tahu ada intel di depan rumah. Sementara yang lain panik dan pasrah untuk ditangkap malam itu.

Biar kelen tau wak, badan tegap, jaket kulit, plus bawa mobil, mukanya tampang intel, Ya kubangunkan lah kelen. Mana tau aku pula dia cuma beli rokok. Gara-gara si latteung itu jadi pucat kita semua, akhirnya kami semua menarik nafas panjang.

Dalam pandanganku, juga pandangan kawan-kawan, situasi ini memang mencekam. Gerakan mengalami ‘Crack Down‘. Sama seperti kami, hampir semua aktivis gerakan prodem mengalami kekuatiran, was-was, panik. Mereka pun bingung akan apa yang perlu dilakukan.

“Per, cok ko kontak dulu Bang Alamsyah Hamdani, tanya ke dia apa kita masih jadi target pengejaran aparat!” pinta Wigi memecah lamunanku. “Informasi dari dia nanti jadi bahan kita untuk langkah ke depan,” Wigi melanjutkan saat kami kumpul di rumah kost Udin di Amplas.

Di tengah kebingungan saran Wigi cukup rasional juga pikirku, “Ok Bung, tapi aku sama Kamal lah piginya, ngeri juga awak kalau jaĺan sendiri,” ku minta sama Wigi. “Ya udah terserah kau lah,” kata Wigi sambil mengangkat bahunya, entah apa artinya.

Malamnya aku pun jalan sama Kamal ke simpang Amplas menuju warung telepon (Wartel), agak was-was juga, kuatir entah tiba-tiba kami disergap di jalan. Iya kolok jelas ditangkap dan dipenjara, tapi kolok kami dihajar di jalan, atau ‘diculik’, hilang kami tak tau rimbanya. Jangan sampe begitulah ya Allah, doaku dalam hati.

Baca juga: Horor Kudatuli di Medan (3)

Untuk urusan otak-atik wartel. Kamal ini paling lihai wak, dia bisa ngobrol berjam-jam hanya dengan modal tali kawat, luar biasa pakcii satu ini memang, entah dimana dia belajar ilmu itu.

Assalamualaikum Bang, Ikhyar ini bang,” aku mulai bicara di depan gagang telpon. “Ikhyar mana?” terdengar jawaban Bang Alamsyah. “Ikhyar SMID bang,” kataku. Terkejut juga Bang Alam saat ku sebut namaku, bang Alamsyah lalu bertanya agak pelan, “Kalian sehat? Apa cerita?” tanya Bang Alam.

Aku pun kemudian bicara lebih lanjut, “Sehat bang, kek mana kondisi saat ini bang? Apa masih ada pengejaran? Siapa siapa saja target mereka ya bang? tanyaku bertubi tubi.

Selanjutnya >>>