IBC, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah tak henti-hentinya atau terus menyerang oposisi dengan membuat tagar #OposisiPlangaPlongo (#OPP), #OposisiGayaDoang (#OGD), #Oposisi Penakut , #OposisiSontoloyo hingga menulis disitus pribadinya dengan judul Oposisi Sekongkol, Rakyat Tawuran.

“Mengapa rakyat yang sudah nyoblos dan mengorbankan biaya pemilu trilyunan lalu menggaji wakilnya masih harus kelimpungan bahkan menjadi korban?,” kata Fahri melalui situs pribadinya, Jum’at (3/9/2021).

Mantan Wakil Ketua DPR RI ini menyampaikan rakyat tidak istirahat urus politik dan fokus cari kehidupan.

“Mengapa rakyat tidak istirahat urus politik dan fokus cari kehidupan? Karena yang diberi amanah lalai dan sibuk pencitraan,” ujar Fahri.

Fahri menegaskan rakyat harusnya berhenti berpolitik dan gesek-gesekan setelah pemilu dan nyoblos. Tapi kenapa terus terjadi sampai rakyat gak bisa hidup tenang?

“Karena sistem perwakilan absen, kongresional yang tak dimengerti oleh parpol yang sdh duduk dapat fasilitas, gaji dan sekaligus KEKEBALAN,” tegasnya.

Selanjutnya mantan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyampaikan kita rakyat tidak harus bertengkar pasca pencoblosan. Politik seharusnya kembali normal setelah masa kampanye.

“Biar mereka, terutama yang menyebut diri partai OPOSISI yang bertengkar melawan eksekutif dan pendukungnya, bukan kita. Mereka enak berantem dapat duit, lah kita?” ujar Fahri.

Menurut Fahri begitulah sistem demokrasi bekerja, membagi fase-fase jadwal pemilu dan masa tenang, dan kalian digaji untuk bekerja dalam sistem itu.

“Disuruh berantem ya berantem dong. Pakai semua fasilitas yang kami berikan. Jangan malah ajak kami keroyokan. Mana kerja kalian?” ketusnya.

Dirinya menyatakan kami rakyat sebenarnya pengen nonton saja sesekali, malam-malam atau pagi-pagi, sebuah panggung politik yang seru dan mencerdaskan, juga menyehatkan kehidupan dan perekonomian.

“Tapi sayang semua diam, menyebut diri oposisi tapi ngomel gak karuan. Akhirnya kami dipaksa ikut pertengkaran,” imbuh Fahri.

Dalam sejarah demokrasi, Fahri menjelaskan semakin seru panggung negara dan dinamika di antara cabang-cabang kekuasaan, rakyat hidupnya tambah senang.

“Lihat Taiwan, atau negara-negara tetangga yang mapan, parlemennya tawuran tapi rakyat makmur gak ketulungan. Lah kita malah rakyat tawuran di pinggir jalan,” jelasnya menyayangkan.

Lebih lanjut Fajri menuturkan indikator sukses dinamika negara adalah apabila rakyat merasa ada keributan di ruang sidang parlemen. Sehingga rakyat tak harus mengisi ruang sidang parlemen jalanan.

Ia menambahkan jika kalian sepi kami cemas karena artinya ada persekongkolan. Kalian sekongkol rakyat tawuran.

“Sudahlah, masa ginian aja gak paham. Dan jangan sekali-kali nyalahin kami yang kasih jabatan dan gaji kalian. Kami kerja di luar sistem, jangan bilang kami ikutan, kami hanya rakyat penonton panggung kalian, tidak bisa apa-apa kecuali teriakan di pinggir gelanggang. Sekian!” tandasnya.

Penulis : DS | YES