IBC, JAKARTA – Sebagaimana layaknya rumah-rumah di kampung, rumah tante Acun di Tanjung Balai tempat kami bersembunyi dari incaran aparat setelah peristiwa Kudatuli 1996, memberi kami kenyamanan yang sangat. Teras depan rumah begitu nikmat untuk kami tongkrongi tiap pagi.

Setelah makan lontong sayur yang kami beli di warung depan rumah, kesegaran teh manis panas dan beberapa bungkus rokok Compil membuat otak kami merasa rilex.

Itu pula yang bikin kami dapat menyimak koran Waspada tiap pagi dengan hati dan pikiran tenang. Dari berita kriminal, iklan, hingga politik, tak luput dari perhatian kami. Ku isap compilku, sebentar ku hembuskan asapnya, dan sambil ku pandangi daun-daun pohon yang bergerak dihembus angin, hatiku berkata syukur, Ya Allah betapa bersyukurnya aku atas karunia-Mu akan hidup yang indah ini.

Ku tengok Aswan yang duduk di sebelahku, dengan rokok di tangan, pandangannya lurus ke depan, seperti ada yang berat dia pikirkan. Sesekali dia tarik nafas dalam.

“Nikmat apa lagi yang kau dustakan Wan? Duit banyak, utang tak punya, rokok betabur, makan enak dan lengkap,” kataku membuyarkan lamunannya.

“Beberapa hari ini awak tak bisa berseloroh sama kelen, situasinya kacau kali wak, stres awak dibuatnya. Apa mungkin ini karena efek kita pegang duit banyak dikasih orang tua Fadly Nurzal itu ya,” kelakar ku. Atau mungkin karena enak kali suasana rumah tantenya Acun ini. Atau karena dua-duanya ya woi, canda ku lagi.

“Jangan boros kali wak! Kita gak tahu berapa lama lagi sporing ini”. Suara Aswan terdengar lirih. Ku tengok dia tak ada ekspresi, aku tak menangkap kesan serius atau tidak.

Baca juga: Sporing ke Tanjung Balai (4)

Aswan pun mulai pande bergurau, benak ku. Biasanya sejak sporing muka kawan satu ini selalu terlihat resah dan tegang. Apa ini dia lagi becanda apa serius ya, pikir ku. Katanya jangan boros, tapi rokok dia yang paling banyak isap, ku tengok, makan pun porsinya paling jumbo di antara kami.

Aku pun kembali sibuk bolak-balik halaman koran lama, seketika Acun muncul mengagetkan kami. Dia datang lalu duduk di sebalah Aswan dengan wajah serius dan lesu, tak terlarut dengan candaan kami.

Anak ini kalok sedang riang kelihatan dari mukanya, bawaannya semangat aja, cakapnya pun banyak, meski digodapun dia gak kan marah, paling hanya senyum-senyum simpul. Tapi jika sedang gelisah, kebalikannya wak, cakapnya tak ada, udah mirip kayak orang bisu. Wajah merengut dan diam seribu bahasa.

Selanjutnya >>>