IBC, TARAKAN – Siapa sangka limbah tulang ikan dari industri olahan ikan bandeng yang biasanya terbuang sia-sia, ternyata dapat dijadikan olahan makanan bergizi.

Inovasi kreatif ini dilakukan Tim Riset inovasi Universitas Borneo Tarakan (UBT) yakni oleh Imra, Mohammad Fadnan dan Reni Ti Cahyani.

Ketiganya merupakan Dosen dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan Universitas Borneo Tarakan (THP UBT) yang berkolaborasi dengan Gusriani, salah satu dosen Fakultas Kesehatan (FIKES) di Universitas Borneo Tarakan.

Menurut Imra, riset ini dilatarbelakangi karena melihat melimpahnya sumberdaya perikanan berupa rumput laut di Kota Tarakan, namun kurang dimamfaatkan dengan baik. Timnya kemudian ingin menghasilkan produk inovasi yakni sus kering yang diperkaya kalsium tepung tulang ikan bandeng dan serat rumput laut. 

“Rumput laut diketahui memiliki kandungan gizi yang cukup baik untuk kesehatan utamanya kandungan serat, vitamin, keragenan, mineral, yang terdapat pada rumput laut tersebut. Selain rumput laut, budidaya ikan bandeng di Kota Tarakan juga sangat melimpah serta UMKM mengolahnya menjadi produk unggulan yakni bandeng tanpa duri” ucap Imra, Ketua Tim Riset inovasi Universitas Borneo Tarakan, disela-sela kesibukannya pada Selasa (7/9/2021) pagi.

Dijelaskan Imra, berdasarkan riset pedahuluan oleh Tim Riset inovasi UBT didapati usaha bandeng tanpa duri menghasilkan limbah tulang padahal tulang ikan bandeng memiliki kandungan kalsium dan gizi yang cukup tinggi.

“Atas dasar tersebut tim riset UBT dengan arahan dari teman Sains Techno Park UBT memformulasikan produk sus dengan rumput laut dan tepung tulang ikan bandeng untuk meningkatkan kalsium dan serat pada produk tersebut” ujarnya.

Selain karena olahan sus kering yang cukup familiar di setiap daerah di indonesia, tepung hasil olahan tulang ikan tersebut diketahui bisa menjadi penambah nilai gizi pada makanan lainnya, caranya cukup dengan dikreasikan dengan produk lain yang diinginkan.

“Rumput laut dan tulang ikan bandeng yang dibuat menjadi tepung sangat baik untuk ditambahkan ke suatu produk untuk meningkatkan nilai gizi suatu produk tersebut. Tim riset UBT memilih untuk membuat sus kering karena produk ini cukup terkenal di seluruh daerah, rasanya yang cukup enak dinikmati saat santai, bekerja dan mudah dibawa kemana mana, tetapi secara nilai gizi masih cukup kurang” papar Imra.

Penulis : GKS | YES