IBC, SUMSEL- Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) H Iriansyah kunjungi Stasiun Klimatologi Kelas I Palembang terkait prakiraan musim hujan tahun 2021/2022 di wilayah Provinsi Sumatera Selatan.

Iriansyah mengatakan bahwa BPBD masih siaga dalam mengendalikan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah) di wilayah Provinsi Sumsel walaupun sekarang lagi musim kemarau tapi disisi lain ada turun hujan di daerah bagian barat Provinsi Sumsel.

“Untuk antisipasi bencana Hidrometeorologi, kita sudah dapatkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel di bulan November, Desember, Januari wilayah Sumsel memasuki musim hujan dan puncaknya Februari sampai Maret oleh karena itu kita harus antisipasi bencana yang akan disebabkan oleh hujan yaitu banjir, tanah longsor dan angin puting beliung,” katanya saat wawancara usai kunjungan ke Kantor Stasiun Klimatologi Kelas I Palembang, Senin (13/9/2021).

Selanjutnya Iriansyah membeberkan untuk wilayah yang rawan tanah longsor di Provinsi Sumsel ketika musim hujan yaitu Kabupaten Empat Lawang, Lahat, Kota Pagar Alam, Muara Enim dan Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan untuk Kota Palembang ketika musim hujan terjadinya genangan air yang diakibatkan oleh kecilnya saluran air.

“Kita dapat informasi dari BMKG Sumsel jika curah hujannya tinggi kita harus waspadai agar masyarakat bisa antisipasi mencegah jangan sampai ada genangan air didaerahnya yang diakibatkan oleh saluran drainase tersumbat oleh aktivitas masyarakat yang membuang sampah disaluran air sehingga menghambatnya mengalirnya air,” ujarnya.

Lebih lanjut Iriansyah menyampaikan bahwa BPBD Kabupaten Kota Provinsi Sumsel sudah koordinasi dengan lintas sektor terkait yaitu TNI, Polri, PU, Kesehatan, Sosial, Tagana dan masyarakat disekitar, untuk siaga apapun bentuk bencana yang diakibatkan oleh Musim hujan.

“Kita harus bersama-sama (masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan akdemisi) berupaya sosialisasi dan mengendalikan bencana yang ada diwilayah kita karena bencana adalah urusan bersama,” ucapnya.

Sementara Kepala Stasiun Klimatologi Palembang Selaku Koordinator BMKG Provinsi Sumsel Wandayantolis mengatakan bahwa berdasarkan pengolahan data model dinamika atmosfer untuk saat ini perkiraan musim hujan akan berlangsung sekitar awal oktober.

“Sekarang kita sedang mengalami fase transisi dimana cuaca berubah dengan cepat tiba-tiba hujan sedangkan ditempat lain kering dan ini mengundang potensi bencana karena fase transisi rawan terjadinya angin kencang dan angin puting beliung yang akan menjadi ancaman kita semua,” kata Wandayantolis.

Wandayantolis mengatakan terkait dengan hotspot pihaknya yang mengelola data harian sehingga sebaran cukup terlihat di wilayah Sumsel bagian tengah kearah timur yaitu Muara Enim, Banyuasin, Lahat dan Musi Banyuasin sebagaimana yang disampaikan oleh Kalaksa BPBD Sumsel bahwa operasi pemadaman Karhutlah masih berlangsung

“Saat fase transisi ini hujannya hanya spot-spot dan belum merata diseluruh wilayah, karena hujan baru akan merata dipertengahan Oktober hingga puncaknya Februari dan Maret dimana ancaman bencananya yaitu potensi banjir dan tanah longsor didaerah dataran tinggi,” ujarnya.

Terakhir Wandayantolis menambahakan untuk Kota Palembang dirinya mengingatkan untuk waspada dengan terjadinya genangan air seperti dijelaskan Kalaksa BPBD Sumsel bahwa di Kota Palembang banjir karena genangan air.

“Dari analisis kami kota Palembang masih tingkat waspada akan terjadinya genangan air akibat hujan yang tidak merata pada fase transisi seperti apa yang dikatakan oleh Kalaksa BPBD Sumsel di Kota Palembang bukan dikatagorikan banjir karena ketika sumbatan airnya terbuka airnya surut,” tutupnya.

Penulis : Zul | YES