IBC, JAKARTA – Theodorus Jakob Koekerits atau dikenal sebagai Ondos adalah sosok politikus dari kalangan aktivis mahasiswa yang patut dijadikan teladan.

“Kita bisa membaca dan belajar banyak tentang seluk-beluk dan suka-duka seorang politisi yang selalu dekat dan ‘merawat’ konstituen politiknya di Dapil VI Jawa Timur,” kata Priyambudi Sulistiyanto, dosen senior pada Flinders University, Australia dalam acara peluncuran buku memoar Ondos bertajuk “Keteguhan Hati yang Teruji: Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1980-an,” melalui aplikasi Zoom dan Youtube pada Jumat, (24/9/2021) kemarin..

Menurut Priyambudi, buku memoar Ondos ini bisa dijadikan semacam ‘panduan’ mempersiapkan mantan aktivis mahasiswa untuk menjadi politisi yang baik di Indonesia di masa ini dan di masa depan. Integritas Ondos, katanya, tidak terlepas dari aktivitasnya semasa menjadi mahasiswa ITB.

“Memang, pada September 1989, Ondos mogok makan selama 17 hari memprotes keputusan Rektor Wiranto Arismunandar, yang memecat dan menskor tokoh mahasiswa yang berdemo saat kunjungan Menteri Dalam Negeri Rudini ke kampus ITB pada 5 Agustus 1989” ujarnya.

Usai lulus dari ITB, Ondos aktif di Forum Demokrasi bersama Gus Dur dan tokoh pro-demokrasi lainnya.

Setelah Presiden Soeharto lengser, Ondos masuk ke PDIP dan terpilih sebagai anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Timur untuk periode 2004-2009 dan 2009-2014. Pada 24 September 2012, Ondos wafat dalam kecelakaan lalu lintas di Sidoarjo setelah mengunjungi konstituennya.

Buku memoar Ondos ini diterbitkan oleh Yayasan 5 Agustus dan Grasindo. Di dalamnya juga menceritakan jejaring aktivis mahasiswa akhir tahun 1980-an di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Makasar dan kota-kota besar lainnya.

Tampil sebagai pembicara lain dalam acara peluncuran buku ini selain Priyambudi Sulistiyanto ada Masduki Baidlowi (Juru Bicara Wakil Presiden Maruf Amin) dan Vian Feoh (mantan staf ahli Ondos di DPR).

Selain itu ada testimoni dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Sonny Keraf, Herry Akhmadi, Riawandi (Didi) Yakub, Irfan Setiaputra, Sugeng Suparwoto, Fajrul Rahman, Edriana Noerdin, Andrinof Chaniago dan lainnya.

Para pembicara mengakui bahwa Ondos adalah sosok yang berintegritas, inklusif dan memegang teguh prinsip dan idealisme. Pramono Anung merupakan kawan Ondos sejak sama-sama menjadi aktivis di ITB hingga di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pramono mengakui bahwa dia tidak setuju ketika Ketua Umum PDIP Megawati menunjuk Ondos sebagai anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR mewakili Fraksi PDIP.

Alasan Pramono adalah karena godaan di Banggar itu sangat besar. Dia khawatir Ondos tidak sanggup menghadapi politik uang dan bujukan untuk melakukan korupsi anggaran. Tetapi, kata Pramono, selama dua periode Ondos berhasil di Banggar.

“Dia teruji kejujurannya. Saya menilai Ondos adalah aktivis dan politikus yang par excellence, yang sempurna. Dia adalah sosok yang mencintai pekerjaannya, jujur, amanah, dan begitu luar biasa,” kata Pramono, mantan Sekjen PDIP.

Penilaian senada diungkapkan Masduki Baidlowi, anggota DPR dari Fraksi PKB, periode 2004-2009. Menurutnya, Ondos berjuang untuk politik anggaran, bukannya mencari-cari anggaran politik. Di lembaga legislatif dikenal istilah pedagang anggaran dan NPWP atau nomor piro, wani piroi (berani bayar berapa). Ondos bukan tipe politikus yang semacam itu.

“Ondos memperjuangkan anggaran sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dan tidak memilah-milah,” kata Masduki. Antara lain dana BOS (bantuan operasional sekolah) untuk madrasah salafiyah di daerah pemilihannya. Padahal dia bukan anggota DPR dari PKB, dan non-muslim. Ondos juga berjuang membangun rumah sakit Islam dengan selalu berkomunikasi dengan komisi-komisi lain di DPR.

Sonny Keraf menjelaskan bahwa Ondos adalah aktivis yang teguh dalam prinsip, yang teguh dalam berpendapat yang luar biasa, dan tetap konsisten. Sonny mengatakan ada aktivis mahasiswa dan lingkungan yang hanyut ketika telah berada di kekuasaan.

“Namun Ondos tak hanyut, dia tetap konsisten memperjuangkan rakyat dengan tetap turun ke dapilnya di Jawa Timur secara konsisten. Sebuah warisan yang ditinggalkan Ondos pada aktivis lain, adalah tetap konsisten,” kata Sonny, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Kembali Priyambudi menjelaskan bahwa integritas dan keterampilan Ondos untuk selalu dekat dan ‘merawat’ konstituen politiknya di Jawa Timur, tidak lepas dari kiprahnya sejak menjadi aktivis mahasiswa di ITB. Benang merah ini, katanya, tidak bisa terlepas atau dihilangkan.

“Oleh karena itu, saya merasakan bahwa buku memoar Ondos ini juga bisa dijadikan semacam ‘panduan’ mempersiapkan mantan aktivis mahasiswa untuk menjadi politisi yang baik di Indonesia di masa ini dan di masa depan,” ujar aktivis pers mahasiswa di Yogyakarta akhir tahun 1980-an.

Apa yang dilakukan Ondos, kata Priyambudi, selayaknya dijadikan materi utama untuk pendidikan politik bagi para calon politisi Indonesia.

Ammarsjah, koordinator penulisan buku dan mantan aktivis mahasiswa ITB menjelaskan bahwa buku ini memang didedikasikan bagi Ondos dan kawan-kawan yang telah wafat yang mewarnai gerakan mahasiswa akhir tahun 1980-an. Buku ini menjadi referensi untuk mengenal sosok Ondos yang begitu teguh mengamalkan nilai-nilai yang sejak muda dia perjuangkan dan memahami suasana batin gerakan mahasiswa era itu yang masih sedikit ditulis.

Pada saat itu, kata Ammarsjah, ruang demokrasi begitu sempit dengan resiko perjuangan yang sangat sulit bagi para aktivis. Kondisi itu memaksa Ondos melalukan perlawanan yang tidak biasa, dengan kecerdikan, ketabahan, perkawanan, keteguhan dan keyakinannya terhadap hal hal yang diperjuangkan.

“Namun Ondos mampu melewati semua hambatan dan menjadi politisi tangguh yang tetap setia digaris rakyat dan keluar dari pragmatisme politik yang lazim terjadi saat ini,” kata Ammarsjah yang ditahan dan diadili oleh rezim Orde Baru dalam kasus 5 Agustus 1989.

Untung Widyanto, editor buku memoar Ondos, memaparkan bahwa buku ini kaya akan data-data sejarah gerakan mahasiswa akhir tahun 1980-an di Bandung dan beberapa kota besar lainnya.

“Selain itu juga mengangkat sisi human interest Ondos,” kata Untung Widyanto, mantan wartawan Tempo yang telah menulis beberapa buku.

Misalnya, kisah cintanya selama menjadi aktivis mahasiswa dan pernikahannya dengan Maria Silabakti, rekan kerjanya di Grasindo. Buku ini juga mengulas bagaimana Ondos “menemukan” dan mengangkat Joko Widodo ke pentas nasional, sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberi kata sambutan dalam buku memoar ini. Bagi PDIP, kata Megawati, sosok Ondos merupakan salah satu kader partai yang dapat menjadi teladan bagi kader lainnya dalam memaknai arti dari kewajiban menjalankan suatu tugas dengan prinsip karmanye vadhikaraste ma phalesha kadachana.

“Kerjakanlah seluruh kewajibanmu dengan sungguh-sungguh tanpa menghitung untung-rugi,” kata Megawati.

Sebagai kader partai yang menjalankan tugas dengan prinsip keikhlasan tersebut maka setiap petugas partai untuk membumikan ideologi partai agar bisa hadir dan dirasakan di tengah masyarakat merupakan tugas yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, penuh dedikasi, loyal, dan bertanggungjawab.

Setelah lulus sebagai pelajar di SMA Cenderawasih Makkasar pada 17 Februari 1981, Ondos menulis di buku alumnus sekolah.

“Lebih baik saya saja yang menderita daripada orang lain ikut menderita, berusaha sampai kapan pun,” kata Ondos yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada 9 Februari 1962.

Penulis : DS | YES