IBC, PELALAWAN – Teka-teki kekosongan stok obat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSID) Selasih Pelalawan Provinsi Riau menjadi pertanyaan banyak pihak. Dugaan adanya korupsi di dalam tubuh RSUD saat ini masih menjadi misteri.

Sempat beberapa waktu lalu adanya temuan oleh BPK dan ditindaklanjuti pihak Kejari Pelalawan belum lama ini menimbulkan pertanyaan disebabkan proses hukumnya terpaksa dihentikan setelah dilakukannya Puldata maupun Pulbaket oleh Kasi Intel Kejari Pelalawan dengan alasan Yuridis.

Kelangkaan obat-obatan di RSUD Selasih sempat dijawab oleh Direktur Rumha Sakit, Chairul yang mengatakan kekosongan stok obat disebabkan kekosongan stok di pihak distributor.

“Stok obat dari distributornya yang habis juga, karna obat kita e_katalok,” jawabnya singkat beberapa hari yang lalu.

Mengenai jawaban Chairul tersebut, IBC kemudian melakukan penelusuran terkait mekanisme pembelian obat-obatan secara e-katalog. Setelah mendapati jawaban dari narasumber yang berkompeten yang juga bertugas sebagai salah satu tim medis di rumah sakit, ia menjelaskan bahwa pemesanan obat tidak terfokus kepada satu toko atau distributor saja.

“Saya kira itu jawabannya mengada-ada, di dalam katalog itu tersedia banyak toko (distributor – red), kalau toko satu habis, kita bisa klik toko lain. Jangan dipaksakan harus belanja di distributor satu saja,” jelasnya sambil memperlihatkan web katalog.

Kekosongan stok obat disebabkan kemungkinan adanya dugaan monopoli obat oleh satu perusahaan, padahal jika dilihat dari e-katalog, banyak perusahaan atau distributor lain yang mampu menyediakan obat dengan merek dan kualitas yang lebih baik.

Dugaan adanya kongkalikong dalam menentukan perusahaan pemenang semakin kuat disebabkan tidak adanya transparansi proses pengadaan obat serta user tidak dilibatkan dalam proses tersebut.

Dari pengakuan kepala bidang pelayanan Medic, Irna kepada IBC, bahwa pihaknya saat ini telah memutus kontrak dengan pihak distributor disebabkan adanya sangkutan hutang pihak rumah sakit dengan distributor yang mencapai hampir 4 miliyar rupiah.

Dirinya membenarkan telah diperiksa oleh Kejari Pelalawan bersamaan dengan rekannya bernama Hendra yang juga di ketahui pemilik apotek. Ketika ditanyakan terkait kabar adanya dugaan suap ke oknum , dr Irna membantah keras.

“Ah tidak ada itu, mana berani saya melakukan itu, lagian dari mana uangnya. Tidak mungkinlah saya berani,” jelasnya saat dihubungi melalui telepon beberapa waktu lalu.

Irna mengatakan terkait terhutangnya pihak RSUD Selasih kepada pihak distributor disebabkan dana BLUD yang minim dan digunakan untuk operasional rumah sakit. Namun ia mengatakan telah membayar secara bertahap kepada distributor.

Penulis : Faisal | YES