IBC, JAKARTA – Banyak perempuan hebat Indonesia, seperti ibu kita Kartini, Megawati Soekarnoputri, Sri Mulyani, Retno Marsudi, Puan Maharani, sampai Susi Pujiastuti.

Seperti juga perempuan yang satu ini, sosoknya tak pantang menyerah berikan edukasi kepada para petani dan khalayak umum. Bahkan ia beberkan sejarah bagaimana lahirnya ‘buruh tani’ di Indonesia yang sejak zaman VOC telah ada.

Karena kerap turun ke lapangan sosok ini temukan permasalahan petani perempuan dan pertanian di Indonesia, bahkan saat ditanya redaksi IBC, perempuan yang aktif dengan pertanian ini dapat mengurainya satu per satu masalah yang berkaitan dengan perempuan dan pertanian di Indonesia.

Dia adalah Ketua Umum Perempuan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Dian Novita Susanto yang saat menuturkan kepada redaksi kalau Indonesia merupakan negara agraris, namun ironis disisi pertaniannya masih kurang, masih banyak membutuhkan milenial-milenial baru yang bisa menggaungkan pertanian.

“Karena kan… kalau ngomongin pertanian kan… bukan cuma on farm tapi juga ada off farm,” tuturnya di Kopi Perempuan Tani, Jakarta Selatan, Rabu (6/10/2021).

Dian begitu sapaannya paham akan kondisi petani perempuan dan juga pertanian di daerah daerah. Terlebih dengan organisasi Perempuan Tani HKTI yang ia nahkodai, dengan sering turun ke lapangan sosok Dian dapat menemukan permasalahan yang ada di daerah, dan berharap tak ingin petani hanya dapat menanam saja.

“Karena bicara tentang pertanian pasti di situ ada beberapa masalah, salah satunya adalah gimana petani bisa bertemu dengan pasar, nah di sini kita bangun ekosistem yang namanya kopi perempuan tani,” kata perempuan ramah ini.

Produk lokal binaan Perempuan Tani HKTI yang dipajang di gerai Kopi Perempuan Tani. Produk tersebut tidak hanya hasil tani tapi juga hasil kerajinan tangan. Foto: Dok. IB

Lebih lanjut Dian juga berharap ekosistem yang dibangunnya bisa tersebar diberbagai daerah bahkan di luar negeri, agar bisa memasarkan banyak produk-produk lokal baik hasil tani maupun kerajinan tangan. Serta memungkinkan ke depannya juga untuk dapat membuat aplikasi digitalnya.

“Rencananya kopi perempuan kami ini akan kita buka diseluruh Indonesia. Nanti ke depannya panen panen lokal dari petani itu bisa kita ambil. Itu yang sekarang sedang kita urai,” tandasnya.

Sebagai Organisasi Sayap HKTI yang diketuai oleh Mantan Panglima TNI Jend TNI (Purn) DR. Moeldoko ini, Dian menyampaikan pula ada pembinaan serta peningkatan kelas UMKM, yang menurutnya banyak dari pelaku UMKM tidak terpikir tuk mengembangkan usahanya, karena hanya sebatas untuk bertahan hidup atau cukup untuk makan saja.

“Nah di situ kan kita harus ubah dulu mindsett-nya mereka. Mindsett-nya diubah lalu kita kasih pelatihan pendampingan. Nah kita sebutnya itu UMKM grade up,” ungkap perempuan yang menaungi ribuan anggota petani perempuan di Indonesia.

Selain itu, organisasi yang ia ketuai ini pun disebutnya memiliki program lainnya, yakni membantu para perempuan Indonesia bisa mandiri atas ekonominya melalui pangan rumahtangga, seperti memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang ditananami sayur sayuran. Serta program serius ketahanan pangan.

“Karena gini kalau menurut saya kalau ngomongin permasalahan kita enggak bisa menyalahkan keadaan. Gimana caranya kehadirannya kami itu bisa bermanfaat,” tutupnya.

Penulis : DD|YES