IBC, ROHIL – Proses perjalanan sidang kasus pengeroyokan yang mengakibatkan kematian seorang tenaga cleaning service (CS) salah satu rumah sakit di Bagan Batu Kecamatan Bagan Sinembah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) Provinsi Riau beberapa bulan lalu masih terus berjalan di proses persidangan Pengadilan Negeri (PN) Rohil.

Terdakwa pelaku utama dituntut oleh pihak kejaksaan (JPU) selama 18 tahun kurungan penjara, sedangkan terdakwa lainnya seiring berjalannya waktu yang diawal penyidikan diyakini terkena pasal 165 KUHP, kini dituduh turut serta dalam pembunuhan berencana dengan ancaman pidana selam 15 tahun penjara.

Investigasi lapangan Biro IBC terdapat beberapa data yang mengejutkan. Baik pengakuan terdakwa dan fakta persidangan, bahwa keterangan terdakwa menolak tuduhan JPU Yudika Albert Kristian Pangaribuan, Marulitua J. Sitanggang, Yongki Arvius dan Rahmad Hidayat yang menjeratnya dengan pasal 340 Jo 55 ayat 1 KUH Pidana. Bantahan terdakwa (Zf) dikuatkan dengan keterangan saksi di persidangan.

Menggali informasi dari beberapa sumber menjelaskan bahwa ZF dan TF diyakini tidak berperan dalam pembunuhan seperti tuduhan JPU yang menuntut keduanya dengan pasal 340 Jo 55 ayat 1 KUH Pidana.

Menurut pihak keluarga Zf saat dihubungi melalui ponselnya beberapa waktu lalu dengan mengirimkan surat pernyataan pihak keluarga korban telah memaafkan, menunjukkan bahwa peran Zf dalam peristiwa pengeroyokan memang tidak sesuai dengan tuntutan JPU.

“Suami saya gak seperti yang dituduhkan itu Bang, dia cuman melihat dan sudah berusaha melarang pelaku (IIN – red) untuk tidak memukul korban, dan saat di rumah, suami saya dijemput rekan-rekan pelaku, saat itu suami saya juga mengatakan ke saya kalau dia hanya diam tidak ada ngapa-ngapain, situasi gelap gulita,” jelas istri Zf penuh emosi saat bercerita kepada Biro IBC melalui telepon beberapa waktu lalu.

Menyikapi tuntutan Jaksa tersebut, Wakil Ketua bidang Hubungan Kelembagaan dan TNI Polri Laskar Merah Putih (LMP) Provinsi Riau, Faisal meminta pihak Kejaksaan Negeri Rokan Hilir (Kejari Rohil) agar obyektif dalam menafsirkan terjemahan pasal 340 Jo 55 KUHP untuk menjaga keamanan dan keadilan bagi masyarakat.

“Semua ada nomenklaturnya, menerjemahkan pasal 340 Jo 55 KUHP itu kan artinya sebagai orang yang melakukan, menyuruh atau turut serta melakukan dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyama orang lain, fakta dipersidangan tidak demikian, tuduhan JPU terbantahkan,” jelasnya kepada IBC melalui WhatsApp, Senin (29/11/2021).

Faisal juga meyakini Hakim PN Rohil akan melihat persoalan dengan nomor perkara 327/Pid. B/2021/PN. Rhl yang dihadapkan kepadanya akan berlaku arif dan penuh kehati-hatian.

“Lebih baik membebaskan seribu orang yang bersalah, daripada menghukum 1 orang yang tidak bersalah, hakim itu tangan Tuhan untuk menegakan keadilan dimuka bumi,” tandasnya.

Menurut tuduhan JPU yang dikutip dari laman SIPP pengadilan negeri Rokan Hilir, bahwa ZF turut serta dengan peran mengawasi situasi ditempat kejadian perkara.

Namun hal itu menjadi membingungkan dengan pengakuan Zf saat diwawancarai di Lapas Bagan Siapiapi. Zf mengaku tidak bisa melihat korban disebabkan tidak ada penerangan didalam perkebunan kelapa sawit.

Zf menerangkan posisinya pada saat di TKP dia dan seorang temannya hanya duduk yang diperkirakan cukup jauh dengan menandakan suara pelaku dengan rekannya terdengar tidak begitu jelas.

“Saya dan seorang teman saya hanya duduk Bang, kami gak tahu jalan keluar arah mana karena gelap kali, tapi dituduh mengawasi orang datang, kayak mana mau ngawasi gelap kali pun Bang,” ujar Zf menjelaskan dengan sedih.

Penulis : RF | YES