IBC, TALIABU – Selama 1 abad (100 tahun kalender), warga dua Desa di Pulau Taliabu, Maluku Utara, mengalami krisis air bersih.

Dua Desa di antaranya Limbo dan Loho Buba, di Kecamatan Taliabu Barat. Lantas, selama ratusan tahun warga setempat harus mengambil air dengan menggunakan sampan (perahu) menyeberang selama 3 jam ke Desa Beringin Jaya.

Kepala Desa Limbo, Irfan Abidin membenarkan hal tersebut. Kata dia, selama 1 abad warga Desa sekitar belum terjawab soal air bersih.

“Kalau mau ambil air bersih masyarakat harus menyeberang lagi ke Desa sebelah. Jadi kalau dihitung-hitung waktunya sudah 1 abad warga disini susah air bersih,” ungkap Arifin.

Arifin mengaku, meski adanya program PDAM selama ini, namun belum berhasil menjawab kebutuhan air bersih di Desa tersebut.

“Karena baru jadi 1 atau bulan berjalan, saluran air macet terus, bayangkan saat ini saja sudah 1 tahun lebih PDAM kembali macet,” tuturnya.

Selain itu, Balai Cipta Karya Provinsi Maluku Utara meski sudah melangsungkan pekerjaan proyek PDAM sejak tahun 2019, namun belum dapat merealisasikan kebutuhan air bersih di dua Desa tersebut.

Direktur Teknis PDAM Pulau Taliabu, Kisman Djanu menjelaskan, dua Desa yang dimaksud memiliki geografi wilayah yang terpisah dengan Taliabu. Karena itu, proyeksi program air bersih ke Desa tersebut sering mengalami kendala.

Kisman mengungkapkan, penyebab macetnya air bersih lantaran pipa bawah laut sepanjang 300 meter menuju dua Desa ini sering terputus.

Alhamdullilah, kerusakan tersebut kembali diperbaiki dan saat ini warga Desa Limbo dan Loho Buba sejak Senin lalu, air bersih sudah kembali normal,” katanya.

Lebih jauh Kisman menyampaikan, meski pipa telah diperbaik, namun belum dapat menyelesaikan problem air bersih di dua Desa itu.

“Air bersih ini masih menjadi tanggungjawab balai, karena penyerahannya membutuhkan persetujuan presiden,” akunya.

Penulis: HVD